Grid.ID - Jelang Maulid Nabi 2025 yang jatuh pada 12 Rabiul Awal. Masyarakat di berbagai penjuru Indonesia tengah bersiap menyambut hari besar ini dengan beragam tradisi khas daerah.
Di Provinsi Banten, terdapat satu tradisi unik dan penuh makna yang masih lestari hingga kini, yakni Panjang Mulud.
Jelang Maulid Nabi 2025, Inilah Asal Usul Tradisi Panjang Mulud
Panjang Mulud merupakan tradisi budaya masyarakat Banten dalam merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Mengutip data dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, tradisi ini telah berlangsung sejak masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa (1651–1682) dari Kesultanan Banten.
Pada masa itu, Panjang Mulud dirayakan secara besar-besaran sebagai bagian dari simbol kejayaan kerajaan. Nama “Panjang Mulud” sendiri diyakini berasal dari kata pajang (dari bahasa Sanskerta yang berarti hiasan atau dekorasi) dan mulud (yang berarti maulid atau kelahiran Nabi).
Ada juga versi lain yang menyebut bahwa istilah “panjang” berkaitan dengan aktivitas memajang atau mempertontonkan hasil kreativitas warga berupa benda-benda hias.
Pelaksanaan Panjang Mulud di Berbagai Daerah Banten
Tradisi Panjang Mulud biasanya dilaksanakan di sejumlah daerah di Banten seperti Serang, Cilegon, Pandeglang, dan Lebak.
Persiapan dilakukan oleh masyarakat melalui musyawarah antara tokoh adat, aparat desa, hingga warga setempat.
Mereka membentuk panitia, menyusun anggaran, dan menentukan waktu serta lokasi kegiatan. Salah satu ciri khas Panjang Mulud adalah keberadaan "panjang" hiasan besar yang dirakit menyerupai berbagai bentuk seperti rumah, kapal, mobil, hingga pesawat.
Hiasan ini lalu dipenuhi dengan berbagai barang seperti uang, pakaian, perlengkapan ibadah, makanan, hingga dekorasi meriah lainnya. Setiap panjang biasanya mewakili kelompok warga seperti RT atau desa.
Baca Juga: Jelang Maulid Nabi 2025, Inilah Tujuan dari Memperingati Hari Lahir Nabi Muhammad SAW
| Source | : | Kompas.com,Tribunnews.com,pta-banten.go.id |
| Penulis | : | Siti M |
| Editor | : | Siti M |