Grid.ID- Profil KH Abdus Salam Mujib kini menjadi sorotan setelah insiden ambruknya gedung Pondok Pesantren Al Khoziny di Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur. Musibah yang terjadi pada Senin, (29/9/2025) sore itu menewaskan puluhan santri dan mengundang perhatian publik nasional.
Polda Jawa Timur telah memulai penyelidikan terhadap peristiwa ini, termasuk kemungkinan pemeriksaan terhadap sang pimpinan pesantren. Meski sedang menghadapi situasi sulit, sosok KH Abdus Salam Mujib dikenal luas sebagai ulama yang berpengaruh di Sidoarjo dan cucu dari pendiri pesantren legendaris Al Khoziny.
Di bawah kepemimpinannya, pesantren tersebut berkembang menjadi pusat pendidikan Islam modern yang tetap mempertahankan nilai-nilai tradisi. Dihimpun dari Tribun Timur dan Kompas.com, Jumat (10/10/2025), profil KH Abdus Salam Mujib secara mendalam, dari latar keluarganya, kiprah keagamaannya, hingga tanggapannya atas musibah yang menimpa santrinya.
Profil KH Abdus Salam Mujib
Dalam profil KH Abdus Salam Mujib, diketahui bahwa beliau merupakan keturunan langsung dari keluarga besar ulama pendiri Pondok Pesantren Al Khoziny. Ia adalah putra KH Abdul Mujib Abbas, penerus generasi kedua pesantren tersebut. Silsilah keluarganya bersambung hingga KH Moh. Abbas bin Moh. Khozin bin Khoiruddin bin Ghozali, pendiri pesantren yang lebih dikenal dengan sebutan Kiai Khozin Sepuh.
KH Khozin Sepuh mendirikan Al Khoziny lebih dari satu abad lalu, dan sejak saat itu pesantren ini menjadi salah satu pusat keilmuan Islam di Sidoarjo. Garis keilmuan dan pengajaran kitab kuning di pesantren ini diwariskan turun-temurun hingga kini diasuh oleh KH Abdus Salam Mujib. Hal ini menjadikannya generasi ketiga penerus pesantren yang tetap mempertahankan tradisi pesantren klasik sekaligus membuka diri terhadap perkembangan zaman.
Sejak muda, KH Abdus Salam Mujib dikenal tekun dalam menimba ilmu. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar di Pesantren Al Khoziny, beliau melanjutkan studi ke Pondok Pesantren Sarang, salah satu lembaga pendidikan Islam ternama di Jawa Tengah. Tak berhenti di situ, beliau memperdalam ilmu keislaman di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, dan berhasil meraih gelar sarjana muda bidang Syariah.
Pendidikan internasional itu membentuk pandangan KH Abdus Salam Mujib menjadi luas dan moderat. Ia dikenal sebagai ulama yang menekankan keseimbangan antara ilmu agama dan ilmu umum. Dalam berbagai kesempatan, beliau sering menegaskan pentingnya santri memahami realitas modern tanpa meninggalkan akar spiritualitas.
Sebagai pengasuh utama Pondok Pesantren Al Khoziny, KH Abdus Salam Mujib berhasil membawa lembaga ini berkembang pesat. Kini, pesantren tersebut tidak hanya mengajarkan kitab klasik dan pendidikan diniyah, tetapi juga memiliki lembaga formal dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi.
Salah satu capaian penting di bawah kepemimpinannya adalah berdirinya Institut Agama Islam (IAI) Al Khoziny, yang kini dikenal sebagai kampus Islam ternama di Sidoarjo. Melalui lembaga ini, ia mendorong kolaborasi antara ilmu pengetahuan modern dengan nilai-nilai Islam tradisional. Selain itu, KH Abdus Salam Mujib juga aktif sebagai Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sidoarjo, menjadikannya tokoh sentral dalam pembinaan umat di wilayah tersebut.
Insiden Ambruknya Gedung Ponpes Al Khoziny
Nama KH Abdus Salam Mujib mulai banyak diperbincangkan publik setelah insiden tragis ambruknya gedung musala di kompleks Ponpes Al Khoziny pada 29 September 2025. Peristiwa itu menewaskan sedikitnya 67 santri dan melukai puluhan lainnya. Diduga, penyebab utama insiden adalah kesalahan konstruksi bangunan yang tidak sesuai dengan standar teknis.
| Source | : | KOMPAS.com,Tribun Timur |
| Penulis | : | Mia Della Vita |
| Editor | : | Nesiana |