Grid.ID - Nama Raden Ajeng Kartini (RA Kartini) tak pernah lepas dari sejarah perjuangan emansipasi perempuan di Indonesia. Meski hidup singkat, pemikirannya terus dikenang dan memberi pengaruh besar hingga kini.
Lepas dari Pingitan, Kartini Mulai Melawan Tradisi
Berdasarkan buku R.A. Kartini: Biografi Singkat 1879–1904 karya Imron Rosyadi, Kartini mulai keluar dari masa pingitan pada usia 16 tahun. Momen ini menjadi titik awal perubahan dalam hidupnya.
Ia mulai menerapkan pola hubungan yang lebih setara di lingkungan keluarga. Bersama adik-adiknya, Rukmini dan Kardinah, Kartini menghapus kebiasaan feodal seperti berjongkok sebagai bentuk penghormatan.
Pernikahan dan Dukungan Suami
Pada 1903, Kartini menikah dengan K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat. Pernikahan ini justru menjadi jalan bagi Kartini untuk terus memperjuangkan cita-citanya, karena sang suami dikenal mendukung pemikirannya, terutama di bidang pendidikan perempuan.
Kondisi Perempuan di Masa Kolonial
Di tengah situasi politik Hindia Belanda yang tidak stabil, Kartini melihat ketimpangan besar dalam kehidupan perempuan pribumi. Tradisi dan adat yang kuat membuat perempuan terpinggirkan, terutama dalam akses pendidikan.
Kala itu, perempuan sering dianggap sebagai “konco wingking” yang hanya bertugas mengurus rumah tangga dan anak. Kondisi inilah yang mendorong Kartini untuk memperjuangkan kesetaraan.
Perjuangan Lewat Pendidikan dan Tulisan
Kartini memulai langkah nyata dengan mendirikan sekolah bagi perempuan, khususnya dari kalangan bangsawan. Ia berharap pendidikan bisa menjadi kunci untuk meningkatkan derajat perempuan pribumi.
Baca Juga: Perjuangan RA Kartini, Tonggak Emansipasi Perempuan di Tengah Tradisi Patriarki di Masanya
| Source | : | Kompas.com,buku R.A. Kartini: Biografi Singkat 1879–1904 |
| Penulis | : | Siti M |
| Editor | : | Siti M |