Grid.ID - Persahabatan antar perempuan atau sisterhood kerap menjadi fondasi kuat dalam mendorong perubahan sosial, termasuk dalam perjuangan emansipasi. Hal ini tercermin dari hubungan erat antara Raden Ajeng Kartini atau RA Kartini dan sahabat penanya dari Belanda, Rosa Abendanon.
Kedekatan keduanya tidak hanya sebatas pertukaran surat, tetapi juga menjadi salah satu pemantik lahirnya gagasan besar tentang kesetaraan perempuan.
Dukungan Sahabat di Tengah Keterbatasan
Pada akhir abad ke-19, posisi perempuan masih berada di bawah dominasi laki-laki, terutama dalam hal akses pendidikan. Kartini, yang lahir pada 21 April 1879 sebagai putri Bupati Jepara, menjadi sosok yang berani menentang norma tersebut. Ia memiliki pandangan progresif dan bercita-cita memperoleh pendidikan setinggi mungkin, bahkan hingga ke Belanda.
Namun, realitas berkata lain. Kartini harus mengakhiri pendidikannya di usia 12 tahun dan menjalani pernikahan, sesuai dengan tradisi saat itu. Meski demikian, semangat belajarnya tidak padam.
Dukungan dari sahabat-sahabat penanya di Eropa, termasuk Rosa Abendanon, menjadi penyemangat penting dalam perjalanan intelektualnya.
Rosa dikenal sebagai salah satu sosok yang memberikan dukungan moral kepada Kartini. Bahkan, ketika rencana Kartini untuk melanjutkan studi ke Belanda batal, sahabat-sahabatnya di Negeri Kincir Angin turut merasakan kekecewaan mendalam.
Bagi mereka, Kartini adalah representasi perempuan pribumi dengan pemikiran maju.
Surat-Surat yang Mengubah Sejarah
Perjuangan Kartini tidak berhenti setelah menikah. Ia tetap aktif menyuarakan pemikirannya melalui tulisan dan korespondensi dengan sahabat-sahabatnya di Eropa.
Gagasan-gagasannya tentang pendidikan, kebebasan, dan kesetaraan perempuan banyak dimuat dalam majalah Belanda, De Hollandsche Lelie.
| Source | : | Kompas.com,Tribunnews.com |
| Penulis | : | Siti M |
| Editor | : | Siti M |