Grid.ID - Tahun Baru Imlek menjadi momen yang paling dinanti oleh masyarakat Tionghoa di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Selain angpao dan dekorasi serba merah, kuliner menjadi elemen krusial dalam perayaan ini.
Nah, salah satu primadona yang wajib hadir di meja makan adalah sajian ikan. Namun, tahukah kamu bahwa menyantap ikan saat Imlek tidak boleh dilakukan sembarangan?
Ternyata ada tata cara khusus, mulai dari pemilihan jenis ikan, cara memasak, hingga aturan menyantapnya agar dipercaya membawa keberuntungan atau hoki sepanjang tahun.
Mungkin banyak yang bertanya-tanya pula, mengapa ikan bandeng sering menjadi bintang utama saat perayaan Imlek di Indonesia, khususnya di Jakarta?
Melansir dari laman Bobo.id, fenomena ini ternyata merupakan hasil akulturasi budaya yang unik. Tradisi menyajikan bandeng rupanya berakar dari kebudayaan masyarakat Betawi sejak pertengahan abad ke-19, tepatnya sekitar tahun 1850-an.
Kala itu, warga Betawi kerap menyuguhkan bandeng jumbo pada acara-acara istimewa. Karena hidup berdampingan secara harmonis dengan etnis Tionghoa (khususnya suku Hokkian dari Tiongkok Selatan), kebiasaan ini pun saling mempengaruhi. Akhirnya, warga Tionghoa di Batavia pun mengadopsi tradisi membeli dan menyajikan bandeng sebagai simbol penghormatan dan kemewahan dalam perayaan Imlek.
Kehadiran ikan bukan sekadar pelengkap gizi, melainkan sarat makna. Dalam bahasa Mandarin, ikan disebut dengan "Yu" atau "Yoo". Bunyi kata ini terdengar sangat mirip dengan kata yang bermakna "surplus", "berlebih", atau "berlimpah".
Oleh karena itu, menyantap ikan disimbolkan sebagai doa agar keluarga memiliki rezeki yang berlimpah dan selalu sisa (tidak kekurangan) di tahun yang baru.
Penyajiannya pun ada aturannya. Ikan wajib disajikan secara utuh dari kepala hingga ekor. Dilarang keras memotong-motong ikan sebelum disajikan. Bentuk utuh ini melambangkan integritas serta permulaan dan akhir yang baik di masa depan.
Lantas, bagaimana cara mengolahnya?
Mengutip The Spruce Eats via Kompas.com, metode yang paling dianjurkan adalah dengan cara dikukus. Teknik ini menjaga bentuk ikan tetap utuh sempurna, berbeda dengan digoreng yang berisiko merusak kulit atau daging ikan.
| Source | : | Kompas.com,bobo.id |
| Penulis | : | Devi Agustiana |
| Editor | : | Ayu Wulansari K |