Grid.ID - Fenomena Whip Pink tidak hanya menjadi isu regulasi, tetapi juga menyimpan kisah personal yang mengkhawatirkan. Salah satunya datang dari Doni, mantan pengguna yang pernah terjerat penyalahgunaan gas tersebut.
Doni mengenal Whip Pink dari lingkungan pertemanan saat nongkrong. Awalnya, ia mengira gas itu hanya digunakan untuk keperluan dapur.
Ia melihat teman-temannya menghirup gas langsung dari tabung. Rasa penasaran membuatnya ikut mencoba tanpa memahami risikonya.
“Saya pikir ini cuma buat senang-senang,” kata Doni dikutip Grid.ID melalui tayangan Youtube Deni Sumargo, Rabu (28/01/2026).
Efek yang dirasakan Doni muncul dengan cepat. Halusinasi, rasa ringan, dan sensasi euforia membuatnya ingin mengulang pengalaman tersebut.
Namun, efek tersebut tidak berlangsung lama dan memicu penggunaan berulang. Tanpa disadari, kebiasaan itu berubah menjadi ketergantungan.
Doni mengaku kondisi fisik dan emosinya mulai terganggu. Ia menjadi mudah marah dan kehilangan fokus dalam aktivitas sehari-hari.
“Bukannya rileks, saya malah jadi gampang emosi,” ujarnya.
Ia menyebut penggunaan Whip Pink sempat memicu konflik rumah tangga. Situasi itu menjadi titik balik dalam hidupnya.
Dokter Samuel Sunarso menjelaskan bahwa N2O memengaruhi sistem saraf pusat. Efek dopamin sesaat membuat pengguna ingin terus mengulang.
“Efeknya cepat hilang, itu yang bikin orang pakai berulang,” jelasnya.
Baca Juga: Dibungkus Estetika Party, Whip Pink Dinilai Menyesatkan dan Membahayakan Anak Muda
| Source | : | Youtube |
| Penulis | : | Argia Melanie Pramesti |
| Editor | : | Ayu Wulansari K |