Grid.ID - Profil Alfarizi bin Rikosen, tahanan demo yang meninggal di Rutan Madaeng Surabaya. KontraS sebut ada tekanan psikologis.
Tahanan demo Agustus 2025, Alfarisi meninggal dunia di Rumah Tahanan (Rutan) Kelas I Medaeng, Jawa Timur, pada Selasa (30/12/2025) pagi. Proses hukum terhadap pemuda tersebut secara otomatis terhenti karena secara otomatis seluruh rekapan perkaranya gugur.
"Memang benar ada almarhum Alfarisi meninggal tadi pagi jam 06.00 WIB," kata Kepala Rutan Kelas I Surabaya, Medaeng, Sidoarjo, Tristiantoro Adi Wibowo.
Adapun, kabar duka ini pertama kali diterima Koordinaror Badan Pekerja KontraS Surabaya, Fatkhul Khoir, dari pihak keluarga sekitar pukul 08.30 WIB. Jenazah Alfarisi kemudian dipulangkan dan disemayamkan di tanah kelahirannya, yaitu Sampang, Madura.
Sebelum meninggal, Alfarizi sempat dituduh melempar bom molotov ke Gedung Negara Grahadi, Surabaya, saat aksi demonstrasi, akhir Agustsu 2025. Tuduhan itu membuatnya diproses hukum hingga ditetapkan sebagai terdakwah dan ditahan di Rutan Kelas I Medaeng.
Pada 5 Januari 2026 mendatang, Alfarisi harusnya menghadapi sidang pembacaan tuntutan oleh Jaksa Penuntut Umum Ahmad Muzakki di Pengadilan Negeri Surabaya. Adapun, menjelang hari tuntutan, keluarga sempat menjenguk Alfarisi.
Saat itu, dia tak mengeluhkan kondisi kesehatan serius, namun tak lama setelahnya, kabar duka datang dari dalam rutan. Alfarisi sempat mendapat penanganan di klinik, tetapi nyawanya tidak dapat tertolong.
Alfarisi meninggal dunia karena mengalami gagal pernapasan. Fatkhul Khoir mengatakan bahwa berdasarkan keterangan rekan satu sel, sebelum meninggal dunia, Alfarisi sempat mengalami kejang-kejang.
“Kematian Alfarisi saat berada dalam penguasaan penuh negara kembali menegaskan buruknya kondisi penahanan di Indonesia serta kegagalan negara dalam melindungi hak atas hidup dan memastikan perlakuan yang manusiawi bagi setiap tahanan,” ujar Fatkhul, dilansir dari TribunMataraman.com.
Sementara itu, KontraS menilai setiap kematian yang terjadi di dalam tahanan negara merupakan indikator serius adanya kegagalan sistem. Fatkhul Khoir lalu mengatakan bahwa selama penahanan, Alfarisi dilaporkan mengalami penurunan berat badan.
"Selama masa penahanan, Alfarisi dilaporkan mengalami penurunan berat badan yang sangat drastis, 30-40 kilogram," kata Fatkhul.
| Source | : | kompas,TribunMataraman.com |
| Penulis | : | Faza Anjainah Ghautsy |
| Editor | : | Desy Kurniasari |