Grid.ID - Pernyataan Kemenhut sebut kayu gelondongan banjir Sumatera karena pohon lapuk jadi sorotan. Sementara itu, WALHI soroti 7 perusahaan raksasa di Sumatera Utara yang diduga jadi pemicu bencana besar.

Banjir besar yang terjadi di tiga provinsi di Sumatera dalam sepekan terakhir memakan banyak korban jiwa dan kerusakan besar. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ada 442 orang meninggal dunia dan 402 orang belum ditemukan hingga Minggu (30/11/2025).

Dalam video amatir yang beredar, tampak ribuan kayu gelondongan yang hanyut terbawa arus banjir hingga menumpuk di sungai wilayah Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Kayu gelondongan tersebut diduga memperparah dampak banjir bandang yang melanda wilayah tersebut.

Lantas, dari manakah ribuan kayu gelondongan tersebut berasal? Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan Kementerian Kehutanan (Kemenhut) Dwi Januanto Nugroho menyebut bahwa kayu gelondongan banjir Sumatera berasal dari kayu lapuk dan pohon tumbang akibat cuaca ekstrem.

"Hasil analisis sumber-sumber kayu itu. Satu adalah kayu lapuk, kedua kayu yang akibat tadi pohon tumbang dan ketiga di area-area penebangan. Kayu-kayu dari area penebangan," ujarnya, dikutip dari Kompas TV, Senin (1/12/2025).

Selain itu, Dwi juga mengatakan bahwa kayu gelondongan tersebut sebagian diduga berasal dari hasil penebangan legal dari Pemegang Hak Atas Tanah (PHAT) di Areal Penggunaan Lain (APL). Yang mana APL ini didukung oleh legalitas di tingkat daerah, seperti perangkat desa, camat dan dinas-dinas yang menangani kehutanan.

"Nah, di area penebangan yang kita deteksi dari PHAT itu ada di APL, yang secara mekanisme untuk kayu yang tumbuh alami itu mengikuti regulasi dalam Sistem Informasi Penataan Hasil Kehutanan," lanjutnya.

Berbeda dengan pernyataan Kemenhut, organisasi lingkungan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumut, bencana besar yang terjadi Sumatera tak hanya disebabkan oleh perubahan iklim dan intensitas hujan yang tinggi. Faktor besar pemicu banjir bandang dan tanah longsor ini adalah karena aktivitas pembalakan liar yang masif.

WALHI Sumut soroti tujuh perusahaan raksasa atau korporasi yang berdiri megah di Sumatera Utara, yang diduga bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan yang terjadi. Eksploitasi hutan besar-besaran mengakibatkan berkurangnya fungsi hidrologis di areal tangkapan air di sekitar DAS Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.

Dikutip dari akun Instagram @walhisumut, berikut ini tujuh perusahaan yang diduga menjadi penyebab kerusakan alam di sekitar Danau Toba dan Tapanuli:

1. Tambang emas PT. Agincourt Resourches (Martabe), Tapanuli Selatan.

Baca Juga: Korban Meninggal Banjir di Sumatra Mencapai 303 Orang, Ratusan Belum Ditemukan, Apa Upaya Pemerintah?

Halaman Selanjutnya

Source : Instagram,Kompas.TV
Penulis : Ayu Wulansari K
Editor : Ayu Wulansari K

Tag Popular

#tahun baru china

#berita artis hari ini

#bintang

#Nathalie Holscher

#imlek

#ngawi

#Bandung

#Okie Agustina

#Indonesia

#Rizky Febian