Grid.ID- Dalam sebuah pernikahan, tidak semua konflik muncul karena perbedaan pendapat. Kadang, salah satu pihak memainkan peran sebagai korban atau dikenal dengan istilah playing victim. Pola ini bisa menguras emosi, membuat pasangan merasa bersalah, dan menciptakan ketidakseimbangan dalam hubungan.
Pasangan yang sering merasa selalu disalahkan atau tidak pernah bersalah biasanya kesulitan mengambil tanggung jawab atas tindakannya sendiri. Akibatnya, komunikasi menjadi tidak sehat, dan pernikahan pun terancam stagnan dalam siklus drama tanpa akhir.
Untuk keluar dari situasi ini, penting mengenali tanda-tanda pasangan playing victim sejak dini. Mengutip Your Tango, Selasa (11/11/2025), berikut panduan mengenali perilaku ini dan langkah-langkah efektif untuk menanganinya agar pernikahan tetap harmonis.
1. Dengarkan dan Berempati, Tapi Jangan Selalu Setuju
Dalam pernikahan, pasangan dengan mentalitas korban sering kali hanya ingin didengar tanpa benar-benar ingin menemukan solusi. Mereka merasa dirinya selalu berada di pihak yang benar dan dunia tidak adil terhadap mereka. Di sinilah peran pasangan menjadi penting untuk mendengarkan dengan empati, namun tidak perlu selalu menyetujui pandangan mereka.
Menurut pakar hubungan Nilan, berdebat dengan pasangan yang playing victim tidak akan menyelesaikan masalah. Sebaliknya, cobalah menunjukkan empati terhadap perasaan mereka tanpa memperkuat keyakinan bahwa mereka benar.
Katakan bahwa kamu memahami perasaan mereka, namun tetap jaga batas agar tidak terjebak dalam siklus saling menyalahkan. Dalam konteks pernikahan, hal ini penting agar komunikasi tetap terbuka tanpa kehilangan kendali atas kebenaran.
2. Tunjukkan Pola Pikir Mereka
Menyadarkan pasangan bahwa mereka sedang terjebak dalam pola pikir korban bukanlah hal mudah. Namun, jika waktunya tepat, penting untuk menegaskan bahwa mereka sedang memandang masalah dari sudut yang sempit. Memberikan kejelasan tentang perilaku ini dapat menjadi langkah awal memutus siklus playing victim.
Nilan menekankan, pasangan yang mampu menunjukkan bahwa pasangannya sedang “terjebak dalam rutinitas menyalahkan keadaan” dapat membantu membuka kesadaran. Setelah itu, dorong mereka untuk mulai mencari solusi daripada terus mengeluh.
Dalam pernikahan, kesadaran ini menjadi kunci perubahan. Meskipun masa lalu tidak bisa diubah, setiap individu memiliki kekuatan untuk merebut kembali kendali atas kebahagiaannya sendiri.
Baca Juga: Inilah 10 Tanda Istri Abusif dalam Pernikahan yang Jarang Disadari
| Source | : | Your Tango |
| Penulis | : | Mia Della Vita |
| Editor | : | Ayu Wulansari K |