Grid.ID- Di balik senyum dan tampilan harmonis, banyak pernikahan ternyata menyimpan luka yang tak terlihat. Kekerasan narsistik atau narcissistic abuse menjadi bentuk kekerasan emosional yang kerap terjadi tanpa disadari oleh korban.

Tidak ada tamparan atau luka fisik, namun efeknya mampu menghancurkan kepercayaan diri dan kesehatan mental pasangan. Korban sering kali merasa bingung, tidak berdaya, dan menyalahkan diri sendiri atas masalah yang terjadi dalam hubungan.

Mereka bahkan kesulitan meyakinkan orang lain bahwa luka batin yang dialami sama seriusnya dengan luka fisik. Dalam konteks pernikahan, kekerasan narsistik bisa membunuh keintiman, menimbulkan trauma kompleks, dan perlahan mengikis jati diri seseorang.

Kekerasan Narsistik dalam Pernikahan

Mengutip Marriage.com, Minggu (9/11/2025), kekerasan narsistik dikategorikan sebagai bentuk kekerasan emosional yang melibatkan manipulasi dan pelecehan verbal. Dalam konteks pernikahan, pelaku biasanya menggunakan kata-kata, sikap, atau perlakuan yang membuat pasangannya merasa bersalah, lemah, dan tidak berharga.

Banyak korban bahkan tidak menyadari bahwa mereka sedang mengalami kekerasan emosional karena pelaku pandai membungkus perilaku kasar dengan sikap yang tampak normal. Akibatnya, korban terus terjebak dalam siklus manipulasi yang membuat mereka mempertanyakan diri sendiri. Mereka sering kali kehilangan arah, merasa hancur secara batin, dan tidak mampu lagi mempercayai perasaan mereka sendiri.

Dampak

Dalam pernikahan yang diwarnai kekerasan narsistik, korban biasanya terus-menerus dipaksa percaya bahwa semua masalah adalah kesalahan mereka. Pelaku menggunakan teknik gaslighting yakni membuat pasangan meragukan persepsi dan kewarasannya sendiri.

Korban mulai mempertanyakan keputusan kecil, tindakan sehari-hari, hingga validitas perasaan mereka. “Mungkin aku memang terlalu sensitif,” atau “Aku yang salah paham,” menjadi kalimat yang sering muncul dalam benak korban. Manipulasi semacam ini menciptakan perasaan bersalah mendalam dan membuat korban kehilangan kendali atas kehidupan emosional mereka.

Tidak seperti kekerasan fisik yang meninggalkan memar atau luka, kekerasan emosional dalam pernikahan menciptakan luka yang tidak terlihat seperti luka di jiwa dan harga diri. Kata-kata yang menyakitkan, perlakuan dingin, dan penghinaan terus-menerus bisa menimbulkan efek psikologis yang bertahan lama.

Dalam banyak kasus, korban merasa kelelahan secara mental, seolah hidup mereka telah meledak berkeping-keping. Mereka mencoba membangun kembali rasa percaya diri yang hancur, namun justru merasa kosong dan kehilangan arah. Luka batin ini sama seriusnya, bahkan bisa lebih parah dari kekerasan fisik karena menghancurkan esensi diri seseorang dari dalam.

Baca Juga: Bagaimana Kematangan Emosional Bisa Menunjukkan Kesiapan Menuju Pernikahan? Begini Penjelasan Psikolog

Halaman Selanjutnya
Logo Parapuan
Butuh lebih banyak inspirasi dan berita khusus untuk Puan?
Klik di Sini

Source : marriage.com
Penulis : Mia Della Vita
Editor : Ayu Wulansari K

Tag Popular

#tahun baru china

#berita artis hari ini

#bintang

#imlek

#Nathalie Holscher

#ngawi

#Bandung

#Okie Agustina

#Indonesia

#dewi perssik