Grid.ID- Dalam bayangan banyak orang, pernikahan adalah tempat berlindung penuh cinta dan rasa aman. Namun, kenyataannya tidak selalu demikian. Inilah tanda istri abusif.
Dalam sejumlah kasus, justru istri bisa menjadi sosok yang abusif, baik secara emosional, verbal, maupun fisik. Fenomena ini jarang disadari karena masyarakat masih menganggap pria selalu menjadi pelaku, bukan korban.
Padahal, dalam dinamika pernikahan modern, kekerasan psikologis dari pihak istri bisa terjadi secara halus namun menyakitkan. Tak jarang, suami baru menyadari bahwa ia hidup dalam hubungan yang penuh kendali dan manipulasi setelah luka batin terlanjur dalam.
10 Tanda Istri Abusif dalam Pernikahan
Pernikahan yang sehat seharusnya dibangun di atas saling menghargai dan kepercayaan. Namun, ketika salah satu pihak mulai mengendalikan, mengancam, atau mempermalukan, hubungan tersebut berubah menjadi medan kekerasan yang terselubung.
Banyak pria tidak menyadari bahwa mereka terjebak dalam pernikahan abusif karena kekerasannya tidak selalu tampak di permukaan. Istri bisa tampil lembut di depan orang lain, namun keras dan manipulatif di rumah. Mengutip Marriage.com, Senin (10/11/2025), berikut sepuluh tanda yang dapat menjadi peringatan bahwa seorang suami mungkin hidup dalam pernikahan abusif.
1. Mengontrol Segala Aspek Kehidupan
Istri abusif cenderung ingin mengatur segalanya, mulai dari siapa yang boleh diajak bicara, ke mana suami boleh pergi, hingga bagaimana menggunakan uang. Bentuk kendali ini sering dibungkus dengan alasan “peduli” atau “sayang,” padahal sejatinya merupakan bentuk dominasi dalam pernikahan.
2. Menggunakan Kata-Kata sebagai Senjata
Verbal abuse sering kali menjadi bentuk kekerasan yang tidak terlihat. Istri yang abusif bisa berteriak, merendahkan, atau mencela setiap tindakan kecil suaminya. Akibatnya, suami merasa tidak pernah cukup baik dan kehilangan kepercayaan diri dalam pernikahan.
3. Mudah Meledak karena Hal Sepele
Tanda lain adalah reaksi berlebihan terhadap hal-hal kecil. Kesalahan sepele seperti lupa membeli sesuatu bisa memicu kemarahan besar. Dalam situasi ini, suami hidup dalam ketegangan terus-menerus, takut membuat kesalahan sekecil apa pun.