Grid.ID- Apakah pernikahan benar-benar membawa kebahagiaan dan ketenangan batin? Sebuah studi internasional baru menunjukkan bahwa ikatan pernikahan mungkin lebih dari sekadar simbol cinta—ia juga bisa menjadi kunci bagi kesehatan mental yang lebih baik.
Peneliti menemukan bahwa individu yang belum menikah berisiko lebih tinggi mengalami depresi dibandingkan mereka yang sudah menikah. Fenomena ini terlihat konsisten di berbagai negara dan budaya.
Namun, bukan berarti semua kehidupan lajang membawa kesedihan, karena faktor sosial dan ekonomi juga berperan besar. Temuan ini memicu perdebatan baru tentang makna pernikahan di tengah tren hidup modern yang makin individualistik.
Risiko Depresi Lebih Tinggi pada yang Belum Menikah
Mengutip New York Post, Rabu (8/10/2025), penelitian yang diterbitkan di jurnal Nature Human Behavior ini melibatkan lebih dari 106.000 partisipan dari tujuh negara, di antaranya Amerika Serikat, Inggris, Meksiko, Irlandia, Korea, China, dan Indonesia. Hasilnya, individu yang tidak menikah memiliki risiko 79% lebih tinggi mengalami depresi dibandingkan mereka yang hidup dalam pernikahan.
Para peneliti menyebut, pernikahan sering kali memberikan dukungan emosional dan sosial yang membantu menjaga kestabilan psikologis seseorang. Selain itu, pasangan yang menikah cenderung memiliki rutinitas dan struktur hidup yang lebih stabil—dua faktor penting dalam menjaga kesehatan mental.
Janda dan Duda Juga Berisiko Depresi
Tak hanya yang belum menikah, kelompok janda atau duda juga memiliki tingkat risiko yang tinggi, yakni 64% lebih besar dibandingkan pasangan menikah. Bahkan, mereka yang bercerai berpeluang 99% lebih besar mengalami depresi kronis.
Dalam konteks ini, kehilangan pasangan hidup atau perpisahan emosional dianggap sebagai pemicu stres besar yang berdampak langsung pada kondisi mental. Peneliti mencatat, dukungan sosial dari pasangan menjadi benteng alami yang hilang ketika seseorang tidak lagi berada dalam hubungan pernikahan.
Manfaat Pernikahan terhadap Kesehatan Fisik dan Mental
Menariknya, penelitian lain menunjukkan bahwa manfaat pernikahan tak hanya berkaitan dengan mental, tetapi juga kesehatan fisik. Data yang diterbitkan dalam Global Epidemiology menyebut bahwa menikah dapat menurunkan angka kematian hingga sepertiga pada perempuan.
Bahkan, mereka yang berada dalam pernikahan tidak bahagia tetap menunjukkan kondisi kesehatan yang lebih baik dibandingkan hidup sendiri. Studi lain menemukan bahwa hubungan suami-istri, baik harmonis maupun penuh tantangan, tetap berkorelasi dengan kadar gula darah yang lebih stabil (HbA1c lebih rendah). Artinya, kehadiran pasangan dapat memberikan efek positif fisiologis, entah lewat dukungan emosional atau pengawasan gaya hidup.
Mengapa Pernikahan Bisa Melindungi dari Depresi
Menurut Cuicui Wang dari Harvard University, salah satu penulis studi, manfaat pernikahan muncul karena pasangan memberikan support system yang kuat. Kehidupan bersama memungkinkan adanya pembagian tanggung jawab, stabilitas finansial, serta pertukaran dukungan emosional.
Dalam jangka panjang, hal ini memperkuat ketahanan psikologis seseorang terhadap tekanan hidup. Para peneliti menjelaskan, pernikahan meningkatkan akses terhadap sumber daya ekonomi dan sosial yang penting bagi kesejahteraan mental. Dengan kata lain, hidup berdua memberi ruang untuk saling menjaga keseimbangan antara stres dan ketenangan.
Perbedaan Antara Negara Barat dan Timur
Meski begitu, hasil penelitian menunjukkan variasi antarnegara. Risiko depresi tertinggi dialami oleh individu lajang di negara Barat seperti AS, Inggris, dan Irlandia. Sementara di negara Asia seperti China, Korea, dan Indonesia, dampaknya lebih ringan.
Para ahli menduga hal ini dipengaruhi oleh budaya kolektif di negara Timur, di mana dukungan keluarga dan komunitas masih kuat meski seseorang belum menikah. Namun, penelitian juga menemukan bahwa konsumsi alkohol memperburuk risiko depresi di kalangan lajang, duda, dan janda di Asia dan Amerika Latin.
Pernikahan Bukan Segalanya
Meski penelitian menunjukkan banyak manfaat dari pernikahan, bukan berarti kehidupan lajang selalu buruk. Contohnya datang dari Louise Jean Signore, warga New York berusia 112 tahun, yang menyatakan bahwa rahasia panjang umurnya adalah tidak menikah.
“Saya hidup baik-baik saja karena tidak menikah,” ujarnya menjelang ulang tahunnya yang ke-112. Kisah Louise menjadi bukti bahwa kebahagiaan dan kesehatan mental tidak hanya bergantung pada status pernikahan, tetapi juga pada cara seseorang memaknai hidup dan menjaga keseimbangan emosinya.
Penelitian terbaru menegaskan bahwa pernikahan memiliki hubungan kuat dengan kesehatan mental yang lebih baik, terutama karena dukungan emosional dan sosial dari pasangan. Namun, faktor budaya, gaya hidup, dan kepribadian tetap berperan penting dalam menentukan kesejahteraan seseorang. Pada akhirnya, baik menikah maupun tidak, kunci kesehatan mental adalah memiliki hubungan yang sehat, baik dengan orang lain maupun dengan diri sendiri. (*)
Baca Juga: 15 Manfaat Luar Biasa Pernikahan Bagi Pria, Bisa Tingkatkan Kecerdasan Emosional
| Source | : | New York Post |
| Penulis | : | Mia Della Vita |
| Editor | : | Ayu Wulansari K |
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari, program KG Media yang merupakan suatu rencana aksi global, bertujuan untuk menghapus kemiskinan, mengurangi kesenjangan dan melindungi lingkungan.