Grid.ID- Pernikahan bukan hanya soal cinta, tapi juga tentang kesiapan emosional, mental, dan moral dari kedua pihak. Banyak pasangan gagal menyadari tanda-tanda bahaya yang sudah terlihat sebelum menikah.
Padahal, mengabaikan red flag sejak masa pacaran dapat berujung pada pernikahan yang tidak sehat dan penuh konflik. Sebelum mengucapkan janji suci, penting untuk mengenali tanda-tanda yang menunjukkan pasangan belum siap membangun kehidupan bersama.
Para ahli hubungan menekankan bahwa kesalahan terbesar sebelum pernikahan adalah menutup mata terhadap perilaku buruk pasangan dengan harapan akan berubah setelah menikah. Karena itu, memahami red flag sebelum pernikahan dapat menyelamatkan masa depan dan kesehatan emosional Anda.
1. Pasangan Tidak Dewasa dan Tidak Konsisten
Dikutip dari Marriage.com, Senin (6/10/2025), kematangan bukan hanya soal usia, tetapi juga kemampuan seseorang mengelola hidupnya. Salah satu tanda bahaya sebelum pernikahan adalah pasangan yang tidak mampu bertanggung jawab terhadap pekerjaan, keuangan, atau masa depannya.
Orang seperti ini cenderung tidak stabil secara emosional dan sulit diandalkan ketika menghadapi tekanan hidup. Jika pasangan sering membuat keputusan tanpa pertimbangan matang, itu pertanda ia belum siap memimpin rumah tangga. Dalam konteks pernikahan, ketidakdewasaan ini dapat menjadi sumber masalah yang terus berulang.
2. Riwayat Perselingkuhan
Infidelitas adalah salah satu red flag paling serius dalam hubungan apa pun. Jika pasangan pernah berselingkuh dan tidak menunjukkan penyesalan mendalam, kemungkinan besar kebiasaan itu akan berulang dalam pernikahan.
Tanpa fondasi kepercayaan, hubungan suami-istri akan rapuh dan mudah runtuh. Bahkan, banyak ahli menyarankan untuk tidak melanjutkan hubungan bila pihak yang berselingkuh menganggap perilakunya bukan kesalahan. Sebelum menikah, pastikan definisi kesetiaan jelas bagi kedua pihak agar tidak ada celah untuk pengkhianatan di kemudian hari.
3. Rasa Takut Menjelang Pernikahan
Jika Anda merasa takut atau cemas saat membayangkan berjalan menuju pelaminan, itu tanda serius untuk berhenti sejenak dan mengevaluasi. Ketakutan ini bisa menandakan keraguan batin yang dalam terhadap pasangan atau terhadap ide pernikahan itu sendiri.
Menikah hanya karena takut melukai perasaan pasangan bukanlah alasan yang sehat. Sebaliknya, ambil waktu untuk memahami penyebab ketakutan itu dan bicarakan dengan pasangan atau konselor profesional. Pernikahan yang dimulai dengan rasa takut jarang membawa kebahagiaan jangka panjang.
4. Mengorbankan Hal-Hal Penting dalam Hidup
Salah satu tanda hubungan yang tidak seimbang adalah ketika Anda harus selalu mengalah dan mengorbankan hal penting demi pasangan. Dalam hubungan yang sehat, kompromi seharusnya bersifat dua arah, bukan pengorbanan sepihak.
Jika Anda mulai kehilangan identitas, hobi, atau mimpi karena pasangan, itu pertanda ada ketimpangan dalam hubungan. Dalam pernikahan, situasi seperti ini bisa membuat Anda merasa terjebak dan kehilangan jati diri. Sebelum menikah, pastikan Anda tetap bisa menjadi diri sendiri sepenuhnya.
5. Pertengkaran yang Tidak Pernah Usai
Konflik adalah hal wajar dalam hubungan, tapi jika pertengkaran menjadi rutinitas, itu pertanda ada masalah mendasar yang belum terselesaikan. Terlalu sering bertengkar menunjukkan kurangnya komunikasi efektif dan ketidakcocokan nilai antara Anda dan pasangan.
Jika persoalan kecil sering berubah menjadi perdebatan besar, bayangkan apa yang akan terjadi setelah pernikahan. Hubungan yang sehat dibangun dari kemampuan menyelesaikan masalah dengan kepala dingin, bukan dengan emosi. Jangan anggap fase pertengkaran terus-menerus sebagai sesuatu yang normal.
6. Komunikasi yang Buruk
Komunikasi adalah pondasi utama pernikahan yang sukses. Jika sejak awal pasangan sulit diajak berbicara terbuka, sering memberi silent treatment, atau cenderung defensif, itu red flag besar.
Kurangnya komunikasi akan membuat masalah kecil berkembang menjadi besar karena tidak ada ruang untuk klarifikasi. Dalam hubungan yang sehat, kedua pihak saling mendengarkan dan berusaha memahami, bukan saling menyalahkan. Tanpa komunikasi yang baik, cinta pun tak akan cukup untuk mempertahankan rumah tangga.
7. Pasangan Membuat Anda Merasa Tidak Berharga
Pasangan seharusnya menjadi sumber dukungan dan kebahagiaan, bukan penyebab rasa rendah diri. Jika Anda sering merasa tidak cukup baik atau selalu dikritik secara menyakitkan, maka hubungan itu beracun.
Dalam jangka panjang, perilaku seperti ini dapat menurunkan rasa percaya diri dan mengikis cinta. Jangan berharap pernikahan akan mengubah pasangan yang merendahkan Anda, karena biasanya hal itu justru akan semakin parah. Cintai diri sendiri dengan tidak membiarkan siapa pun memperlakukan Anda tidak pantas.
8. Tidak Ada Ketertarikan pada Masa Depan Bersama
Salah satu tujuan utama pernikahan adalah membangun masa depan bersama. Jika pasangan tidak pernah membicarakan rencana jangka panjang atau terlihat tidak peduli pada visi hidup Anda, itu tanda ia belum siap berkomitmen.
Hubungan yang sehat melibatkan perencanaan dan dukungan satu sama lain dalam mencapai impian. Bila pasangan hanya hidup untuk saat ini tanpa visi yang jelas, Anda berisiko menjalani rumah tangga tanpa arah. Ini bisa membuat hubungan terasa kosong dan stagnan.
9. Munculnya Keraguan Besar
Merasa ragu sebelum pernikahan adalah hal wajar, tetapi jika keraguan itu muncul terus-menerus, jangan abaikan. Keraguan adalah sinyal dari intuisi Anda bahwa ada hal yang tidak beres.
Sebaiknya berhenti sejenak dan evaluasi apakah ketidakpastian ini berasal dari diri sendiri atau dari perilaku pasangan. Pernikahan bukan tempat untuk “mencoba-coba”. Pastikan keputusan diambil dengan tenang, bukan karena tekanan waktu atau keluarga.
10. Tidak Ada Batasan dengan Keluarga
Hubungan yang sehat membutuhkan batas yang jelas antara pasangan dan keluarga besar. Jika pasangan terlalu bergantung pada keluarganya untuk membuat keputusan penting, itu pertanda ia belum mandiri.
Dalam pernikahan, campur tangan keluarga yang berlebihan dapat memicu konflik dan memperkeruh suasana. Diskusikan sejak awal bagaimana batasan ini akan dijaga setelah menikah. Tanpa kemandirian, sulit bagi pasangan untuk membangun kehidupan yang stabil bersama Anda.
11. Terlalu Banyak Fantasi Tentang Pasangan
Banyak orang terburu-buru menikah karena terbuai oleh gambaran ideal pasangan yang belum tentu nyata. Jika Anda melihat pasangan sebagai “sempurna” dan menolak melihat kekurangannya, itu pertanda bahaya.
Dalam pernikahan, realitas akan muncul dan ekspektasi yang tidak realistis dapat berubah menjadi kekecewaan mendalam. Cinta sejati bukan tentang kesempurnaan, tapi tentang penerimaan yang tulus. Pastikan Anda menikah dengan orang yang nyata, bukan versi ideal dalam kepala Anda.
12. Merasa Sedih dan Kesepian
Jika Anda sering merasa sedih meskipun sedang bersama pasangan, itu sinyal kuat ada yang salah dalam hubungan. Perasaan kesepian menunjukkan kurangnya koneksi emosional yang mendalam.
Dalam pernikahan, hal ini bisa berkembang menjadi jurang perasaan yang sulit dijembatani. Sebelum menikah, cobalah bicarakan perasaan ini dan lihat apakah pasangan bersedia memperbaikinya. Hubungan yang sehat seharusnya memberikan ketenangan, bukan kesedihan.
13. Kekerasan
Kekerasan, dalam bentuk apa pun—verbal, emosional, atau fisik—adalah red flag yang tidak boleh ditoleransi. Jika pasangan pernah menunjukkan perilaku kasar, sekecil apa pun, jangan berharap hal itu akan berubah setelah pernikahan.
Perilaku kekerasan biasanya memburuk seiring waktu dan dapat membahayakan keselamatan Anda. Tidak ada alasan yang dapat membenarkan kekerasan dalam hubungan. Keselamatan dan kesejahteraan Anda jauh lebih penting daripada mempertahankan hubungan yang berbahaya.
14. Menikah untuk “Memperbaiki” Diri Sendiri atau Pasangan
Menikah bukan solusi untuk memperbaiki luka batin atau mengubah sifat seseorang. Jika motivasi Anda menikah adalah agar pasangan berubah, maka hubungan itu sudah berada di jalur yang salah.
Pernikahan seharusnya menjadi langkah dua individu yang sudah matang dan saling melengkapi, bukan terapi emosional. Masalah pribadi harus diselesaikan sebelum masuk ke pernikahan, bukan dibawa ke dalamnya. Hubungan yang sehat lahir dari dua pribadi yang sudah pulih dan siap berbagi, bukan saling menyelamatkan.
15. Masalah Kecanduan
Kecanduan, baik terhadap alkohol, narkoba, atau hal lain, merupakan red flag yang harus ditangani serius. Orang yang masih berjuang melawan kecanduan belum siap untuk tanggung jawab pernikahan.
Tekanan rumah tangga justru dapat memperburuk keadaan dan membuat hubungan berakhir dengan penderitaan. Sebelum menikah, pastikan pasangan telah menyelesaikan masalahnya dengan bantuan profesional. Menikah dengan seseorang yang belum pulih bisa menjadi awal dari lingkaran masalah yang tak berujung. (*)
| Source | : | marriage.com |
| Penulis | : | Mia Della Vita |
| Editor | : | Nesiana |