Grid.ID - Penerbit Gramedia Pustaka Utama menghadirkan karya terbaru dari jurnalis dan pembawa acara Shahnaz Mariela Soehartono yang berjudul The Captain of My Flight Back Home. Buku memoar ini resmi diluncurkan di Gramedia Jalma pada Jumat (26/9/2025) dan menandai babak baru dalam perjalanan kepenulisan Shahnaz.
Buku The Captain of My Flight Back Home menghadirkan kisah yang menyentuh tentang perjalanan merangkul luka dan menemukan makna cinta sejati. Lewat catatan reflektif tentang kehidupan sang ayah, Shahnaz berbagi proses belajar untuk memberi dan menerima cinta yang mampu memulihkan.
Kisah ini lahir dari pengalaman pribadi menghadapi kehilangan, sekaligus mengajak pembaca untuk memaknai ulang cinta sebagai fondasi yang menguatkan, baik dalam sukacita maupun duka.
Dalam peluncuran buku yang digelar di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, Shahnaz mengungkapkan bahwa proses menulis memoar ini bukanlah hal mudah. Ia harus menelusuri kembali jejak masa lalu, termasuk kisah cinta kedua orang tuanya, yang membuat dirinya berhadapan dengan realita pahit.
"Part ketika gua harus refleksi ke perjalanan cinta gua sendiri, part ketika gua harus membuat perjalanan cinta Nyokap Bokap gua adalah sesuatu yang menyentuh gua dan membuat gua, bisa dibilang struggling untuk mencari makna cinta di dalam buku ini. Karena realita tidak demikian, gitu," ujar Shahnaz Soehartono di kawasan Blok M, Jakarta Selatan pada Jumat (26/9/2025).
Ia menambahkan, sering kali cinta dibayangkan seperti kisah dongeng penuh kebahagiaan. Namun, dalam kenyataan, cinta justru diuji oleh berbagai tantangan. Menurutnya, justru dari proses melewati masa-masa sulit, seseorang bisa merasakan energi cinta yang sesungguhnya.
"Diperhadapkan dengan begitu banyak hal gitu terkait dengan cinta yang kita kira, oh oke, kita tahu itu seperti ini, fairy tale kind of love, tapi enggak ada di sini yang begitu," ujarnya.
Shahnaz menuturkan bahwa menulis memoar mengharuskannya kembali pada ingatan-ingatan lama, yang terkadang menimbulkan perasaan luar biasa berat.
"Seberapa kuat energi yang mereka kasih ketika lu melewati hal yang tidak mudah, tapi kemudian harus menulis lagi semuanya."
"Kalau menulis memoar, harus ambil flashback dari masa lalu, semuanya perasaan itu kalau kita istilahnya mungkin overwhelmed pastinya. Seberapa energi mereka bisa menguatkan seorang Shahnaz pada waktu itu terus bisa menulis," sambungnya.
Bagi Shahnaz, karya ini bukan hanya sekadar catatan personal, tetapi juga sebuah perjalanan spiritual. Ia percaya bahwa ide dan inspirasi adalah titipan semesta yang harus disalurkan.
"Aku selalu percaya kita itu, kita itu jika kita membiarkan diri kita dipakai oleh semesta, kita tuh hanya vessel. Aku selalu ngerasa itu, dan it’s idea nih ya."
"Kalau bicara tentang meditasi, kita bicara tentang beberapa hal yang aku dapatkan gitu ya, dari, dari, dari apa namanya, ajaran-ajaran ini. Ide itu bukan milik kita, ide itu bukan milik kita."
"Ide itu ada di sini, hovering dan ketika kita channeling diri kita untuk membiarkan diri kita dipakai untuk semesta berbicara, ide itu akan diberikan. Ide itu akan lewat dari kita," ujar Shahnaz. (*)
| Penulis | : | Christine Tesalonika |
| Editor | : | Nindya Galuh Aprillia |