Grid.ID - Tahukah kamu apa makna dari kembar mayang? Biasanya kembar mayang ditemui dalam pernikahan adat Jawa.
Kembar mayang merupakan salah satu unsur yang bisa ditemukan dalam pernikahan adat Jawa. Pada awalnya, kembar mayang dikenal dengan istilah gagar mayang.
Namun khawatir dengan pengertian gagar yang identik dengan gugur, istilah lain kemudian berkembang. Kini digunakan istilah kembar mayang. Lantas apa makna dan filosofinya?
Makna Kembar Mayang dalam Pernikahan Adat Jawa
Seorang pemerhati budaya sekaligus dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret (UNS) Tundjung W Sutirto menjelaskan arti dari kembar mayang. Kembar mayang sebenarnya adalah dua untai kembang mayang (bunga pinang) yang disertai dengan sepotong kain cindu dan sindur yang digantungkan pada kepala burung garuda di pedaringan (senthong) tengah.
Pada awalnya, kembar mayang dikenal dengan istilah gagar mayang. Namun karena takut disalahpahami, istilah tersebut berkembang menjadi kembar mayang.
"Padahal, pengertian gagar mayang itu seseorang yang terlepas dari satu keadaan (status), yaitu gugur status kegadisannya atau gugur status jejakanya karena keduanya sudah diikat dalam satu perkawinan dan sudah meningkat kedewasaannya," ujar Tundjung, dikutip dari Kompas.com.
Makna kembar mayang merupakan rangkaian bunga hiasan di pernikahan adat Jawa. Hal ini merupakan hasil representasi dari paham Hindu yang menampilkan Pohon Kalpataru sebagai simbol pohon kehidupan sebagaimana terukir dalam relief Candi Prambanan.
Bentuk tertua kembar mayang di lingkungan masyarakat Jawa materialnya terdiri dari janur (daun kelapa muda), kembang temu, pecut-pecutan sepasang, kupat luar sepasang, dan walang-walangan sepasang.
Selain itu, ada juga bunga potro menggolo, dedaunan seperti beringin, alang-alang, andong, dan daun puring. Namun dalam perkembangannya, kembar mayang kini didominasi dengan hiasan janur yang dirangkai lebih artistik dalam pernikahan adat Jawa.
Dilansir dari Tribunnews.com, kembar mayang tertua berada di lingkungan Keraton Yogyakarta. Kembar mayang ini dibuat pada zaman Sri Sultan Hamengkubuwono VII, yakni pada 1906.
Baca Juga: Mengenal Tradisi Langkahan Dalam Pernikahan Adat Jawa, Begini Prosesi dan Persyaratannya!
| Source | : | tribunnews,Kompas.com |
| Penulis | : | Ines Noviadzani |
| Editor | : | Ayu Wulansari K |