Grid.ID- Mengapa banyak pria sering merasa tertekan dalam pernikahan? Simak jawabannya dalam artikel ini.

Pernikahan sering dianggap sebagai ikatan penuh cinta, kebersamaan, dan saling mendukung. Namun, di balik itu, banyak suami justru menyimpan keluhan yang jarang diungkapkan secara terbuka.

Dalam sesi terapi pernikahan, keluhan-keluhan ini sering muncul sebagai pemicu utama konflik rumah tangga. Menariknya, hal-hal tersebut tidak selalu berkaitan dengan masalah besar, tetapi juga menyangkut kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi. Dikutip Your Tango, Senin (1/9/2025), berikut beberapa keluhan paling sering disampaikan para suami dalam pernikahan menurut sejumlah pakar psikologi dan konselor hubungan.

1. Istri yang Terlalu Kritis

Salah satu keluhan utama suami dalam pernikahan adalah sikap pasangan yang terlalu kritis. Kritik terhadap kebiasaan, gaya hidup, pilihan, bahkan karakter pribadi bisa memunculkan tekanan besar. Menurut psikolog klinis Dr. Susan Pazak, kritik yang terus-menerus membuat seorang suami merasa tidak dihargai dan kehilangan rasa dicintai.

Meskipun ada perubahan sikap dari pihak suami, sering kali usaha tersebut dianggap tidak cukup atau segera diikuti kritik baru. Hal ini menimbulkan siklus yang melelahkan, di mana pasangan merasa tidak pernah benar di mata istrinya. Kondisi ini, bila dibiarkan, dapat berubah menjadi rasa tidak dihormati bahkan kebencian dalam rumah tangga.

Namun, kabar baiknya, hal ini bisa diperbaiki melalui komunikasi sehat dan apresiasi. Memberikan pujian serta penghargaan atas usaha kecil pasangan dapat membantu memulihkan keharmonisan pernikahan.

2. Merasa Terlalu Sering Dihakimi

Selain kritik, banyak suami mengeluhkan perasaan selalu dihakimi. Dalam artikel Psychology Today, Dr. Harriet Lerner menekankan bahwa tidak ada pernikahan yang bisa bertahan bahagia jika salah satu pasangan merasa lebih sering dihakimi daripada dihargai. Bagi banyak pria, penilaian terhadap tindakan mereka sering diartikan sebagai penilaian terhadap nilai dirinya sebagai individu.

Menurut Larry Michel, pendiri Institute of Genetic Energetics, masalah ini membuat pria merasa tidak pernah cukup baik bagi pasangannya. Bahkan ketika ada kata-kata baik, sering disertai dengan penilaian tambahan yang membuat mereka merasa direndahkan. Akibatnya, mereka kehilangan rasa aman untuk mengekspresikan diri.

Solusi yang disarankan adalah dengan mengubah pola komunikasi. Alih-alih langsung menghakimi, pasangan disarankan untuk lebih dulu bertanya dan memahami maksud di balik tindakan suami. Dengan begitu, tercipta ruang saling menghargai dalam pernikahan.

Baca Juga: 10 Tanda Suami Tidak Lagi Bahagia Bersama Anda dalam Pernikahan

Halaman Selanjutnya
Logo Parapuan
Butuh lebih banyak inspirasi dan berita khusus untuk Puan?
Klik di Sini

Source : Your Tango
Penulis : Mia Della Vita
Editor : Ayu Wulansari K

Tag Popular

#tahun baru china

#berita artis hari ini

#bintang

#imlek

#Nathalie Holscher

#ngawi

#Bandung

#Okie Agustina

#Indonesia

#dewi perssik