Grid.ID- Banyak pasangan bingung memilih waktu dan tempat terbaik untuk melangsungkan pernikahan. Apakah lebih baik di masjid, di rumah, atau di KUA?
Kapan hari yang paling dianjurkan untuk mengucapkan ijab kabul? Artikel ini mengulas pandangan ulama serta aturan terbaru pemerintah terkait pelaksanaan pernikahan.
Setiap pasangan tentu menginginkan pernikahan yang penuh keberkahan. Karena itu, tak sedikit yang memilih masjid sebagai tempat akad nikah.
Masjid dianggap tempat suci yang penuh dengan keutamaan. Namun, apakah pernikahan di masjid memang lebih utama? Bagaimana pula jika dilaksanakan di rumah atau KUA?
Para ulama menjelaskan bahwa akad nikah memang disyariatkan dilakukan secara terbuka. Bahkan mayoritas ulama atau jumhur menyarankan akad nikah dilaksanakan di masjid. Salah satu tujuannya adalah agar diketahui banyak orang dan membawa keberkahan.
Dikutip dari Nu.co.id, Minggu (20/7/2025), dalil anjuran tersebut berasal dari sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Siti Aisyah. Beliau bersabda, “ أَعْلِنُوا هَذَا النِّكَاحَ وَاجْعَلُوهُ فِي الْمَسَاجِدِ وَاضْرِبُوا عَلَيْهِ بِالدُّفُوفِ" Artinya, "Umumkanlah akad nikah itu, lakukan ia di masjid, dan tabuhlah rebana untuknya.”
Hadis ini menjadi dasar bahwa pelaksanaan akad nikah di masjid tidak hanya dibolehkan tetapi juga dianjurkan. Meski demikian, para ulama mazhab Maliki memberikan catatan penting.
Mereka mengingatkan bahwa yang dianjurkan hanyalah prosesi ijab kabulnya saja. Sementara acara lain seperti makan-makan atau hiburan sebaiknya dilakukan di luar masjid.
Masjid adalah tempat ibadah yang harus dijaga kesuciannya. Oleh karena itu, kegiatan yang dapat menodai kesakralannya seperti suara keras, obrolan tidak pantas, atau makanan yang berbau menyengat sangat tidak dianjurkan.
Ulama pun memakruhkan penggunaan masjid untuk aktivitas yang mengganggu kekhusyukan salat. Termasuk membicarakan hal-hal duniawi yang bisa mengganggu jamaah. Maka, jika tidak mampu menjaga kehormatan masjid, pelaksanaan pernikahan di masjid bisa menjadi makruh, bahkan tidak diperkenankan.
Sebaliknya, menikah di KUA atau di rumah juga diperbolehkan secara syar’i. Tidak ada larangan untuk menikah di tempat-tempat tersebut.
| Source | : | Tribunnews.com,nu.or.id |
| Penulis | : | Mia Della Vita |
| Editor | : | Nesiana |