Grid.ID- Fenomena perselingkuhan kerap dipandang dari sisi moral atau sosial. Namun, ilmu biologi menawarkan sudut pandang yang berbeda. Inilah alasan orang tertarik selingkuh dari sudut pandang ilmu biologi.
Tahukah Anda, ternyata alasan orang tertarik selingkuh bisa dilacak hingga ke otak manusia. Hal itu berkaitan dengan sistem kerja dopamin dan kebiasaan terhadap rangsangan berulang.
Dikutip dari Psychology Today, Sabtu (28/6/2025), salah satu alasan orang tertarik selingkuh dapat dijelaskan oleh proses biologis bernama habituasi. Habituasi terjadi ketika makhluk hidup menjadi kurang responsif terhadap rangsangan yang sama jika diulang terus-menerus.
Otak manusia menyesuaikan diri dengan situasi yang konstan. Rangsangan yang tadinya terasa menyenangkan bisa menjadi biasa saja seiring waktu.
Contohnya, saat masuk ke ruangan berbau menyengat, awalnya kita merasa tidak nyaman. Tapi setelah beberapa menit, bau itu tidak lagi terasa mencolok karena sistem saraf pusat sudah menyesuaikan diri.
Proses ini juga berlaku dalam hubungan sosial, termasuk relasi romantis. Apa yang awalnya terasa baru dan menggairahkan bisa menjadi hambar seiring waktu.
Seperti kunjungan berulang ke restoran mewah yang pada akhirnya terasa biasa. Dalam hubungan, hal ini bisa menimbulkan rasa bosan dan dorongan untuk mencari sesuatu yang baru. Inilah salah satu alasan orang tertarik selingkuh meningkat dari sisi neurologis.
Dopamin, zat kimia otak yang terkait dengan sistem penghargaan, memegang peranan penting dalam proses ini. Dopamin dilepaskan ketika seseorang menghadapi pasangan baru yang menarik, memicu perasaan antusias dan hasrat tinggi.
Namun, dopamin bukan zat yang membuat kita puas dengan apa yang sudah dimiliki. Sebaliknya, ia mendorong kita untuk terus mengejar hal-hal yang belum kita miliki.
Inilah yang menjelaskan mengapa gairah cinta seringkali memudar setelah hubungan berjalan lama. Dopamin memicu fantasi dan dorongan akan pengalaman baru, bukan stabilitas jangka panjang.
Ketika dopamin dalam otak menurun atau sensitivitas terhadapnya berkurang karena kebiasaan atau rangsangan yang berulang, seseorang bisa merasa kosong. Bahkan seperti kehilangan sesuatu yang membuat hidupnya berarti.
Baca Juga: Dampak Jangka Panjang Orang Tua Selingkuh pada Anak, Benarkah Jadi Sulit Jatuh Cinta Ketika Dewasa?
| Source | : | Psychology Today |
| Penulis | : | Mia Della Vita |
| Editor | : | Nesiana |