Grid.ID – Proses evakuasi pendaki asal Brasil, Juliana Marins, berhasil dilakukan. Medan yang terjal sempat jadi kendala, Tim SAR bahkan bermalam di tebing jurang Rinjani saat evakuasi Juliana Marins.

Salah satu Tim SAR yang turun langsung menjemput Juliana Marins adalah Herna Hadi Prasetyo. Pria yang akrab disapa Tyo itu menceritakan perjuangannya bersama tim saat proses evakuasi.

Posisi Juliana Marins yang terperosok di titik Cemara Nunggal memang cukup sulit untuk dijangkau. Tim SAR bahkan perlu beberapa hari untuk mencapai posisi Juliana di kedalam 600 meter, jurang puncak Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat.

“Sejauh 400 meter kemudian ada teras 1 kemudian teras 2. Korban berada di teras ke 2. Kita harus rappelling (menuruni tebing) lagi sejauh sekitar 200 m lagi. Hari pertama hari kedua itu 200m, kita kemarin coba turun 200m lagi. Memang cukup sulit, banyak batu menimpa kita,” tutur Tyo menceritakannya saat wawancara daring dengan Kompas TV.

Dalam jarak yang tidak pendek, Tyo dan tim harus menuruni tebing yang berpasir dengan batuan lepas. Di momen ini, komunikasi antar tim SAR pun sangat penting agar menjaga keselamatan dari reruntuhan batu.

“Untuk bagian atas itu berpasir dan batu lepasan. Sehingga apabila kita tidak berhati-hati itu bisa mengancam keselamatan temen-temen yang evakuasi ini. Selalu menjaga, kasih tau kalau ada batu jatuh itu, kita langsung menghindar,” kata Tyo.

Tyo bercerita, kenyataan yang dia hadapi juga tak sama dengan yang nampak pada gambar video yang diambil dari drone. Sepanjang 600 meter, tak ada permukaan tebing yang memungkinkan untuk singgah. Tyo dan 3 orang lainnya pun bermalam dengan menggantungkan tubuh pada alat pengaman.

Herna Hadi Prasetyo menceritakan proses evakuasi Juliana Marins saat wawancara daring dengan Kompas TV.
Kompas TV
Herna Hadi Prasetyo menceritakan proses evakuasi Juliana Marins saat wawancara daring dengan Kompas TV.

“Medannya memang sangat ekstrem ya teras pertama - kedua ini 90 derajat dan batunya banyak batu lepas. Kita di malam kemarin itu sampai nge-camp itu kita melakukan flying camp. Batu yang di situ kita bor, kita bikin flying camp, itu kita pasang pengaman.”

“Di drone itu kita kira ada lokasi flat ternyata semuanya miring dan batu lepasan sehingga kita tidur tidak menggunakan tenda, tidak menggunakan fly sheet, kita hanya menggunakan sleeping bag, sama jaket, dan menggunakan pengaman supaya kita ngga merosot. Dan kita jaraknya sama korban ini kurang lebih 3 atau 4 meter jarak kita,” papar Tyo menceritakan.

Selain medan yang terjal, cuaca Rinjani kala itu juga kurang bersahabat. Kabut tebal ikut menghambat pergerakan Tim SAR saat mengevakuasi jenazah Juliana Marins.

Baca Juga: Profil Agam, Guide Gunung Rinjani yang Evakuasi Jasad Juliana Marins, Aksinya Banjir Pujian Netizen Brasil

Halaman Selanjutnya

Penulis : Winda Lola Pramuditta
Editor : Winda Lola Pramuditta

Tag Popular

#tahun baru china

#berita artis hari ini

#bintang

#Nathalie Holscher

#imlek

#ngawi

#Bandung

#Okie Agustina

#Indonesia

#Rizky Febian