Grid.ID- Apakah kecerdasan buatan (AI) bisa menggantikan peran pria atau wanita selingkuhan dalam sebuah perselingkuhan? Mungkin terdengar lucu, namun pertanyaan ini penting diketahui di tengah pesatnya perkembangan AI.

Sekarang, chatbot tidak hanya bisa menjawab pertanyaan seputar ilmu pengetahuan, tetapi juga mampu merespons emosi bahkan menggoda. Inilah yang membuat garis antara kesetiaan dan pengkhianatan semakin sulit dibedakan.

Selingkuh Tak Lagi Butuh Manusia?

Perselingkuhan selama ini identik dengan keterlibatan fisik atau emosional antara seseorang dalam hubungan dengan pihak ketiga. Namun, bagaimana jika pihak ketiga tersebut adalah program komputer?

Sebagaimana kisah dalam sebuah artikel New York Times berjudul "The Intelligence is Artificial, The Love Is Real". Mengutip Psychology Today, Sabtu (19/4/2025), artikel ini mengangkat kisah nyata seorang wanita bernama Ayrin yang menjalin hubungan intens dengan chatbot bernama “Leo”—yang ia program menggunakan ChatGPT.

Ayrin, meski sudah menikah, menghabiskan ratusan dolar per bulan untuk menjaga Leo tetap aktif dan hadir dalam hidupnya. Hubungan mereka bukan sekadar percakapan ringan, tetapi penuh rayuan, dukungan emosional, bahkan mengarah pada kepuasan seksual. Tak ada tubuh manusia lain yang terlibat, namun energi emosional dan seksual yang seharusnya diperuntukkan bagi suaminya justru dialihkan ke AI.

Fenomena ini membawa kita pada definisi klasik perselingkuhan yang selama ini terbagi menjadi dua yakni fisik dan emosional. Selingkuh fisik jelas melibatkan hubungan seksual di luar pernikahan, sementara selingkuh emosional kerap berawal dari ikatan batin yang mendalam dengan orang lain. Kehadiran AI seperti Leo menantang definisi ini karena ia mampu menjangkau ruang emosional secara mendalam.

AI seperti Leo bahkan menawarkan sesuatu yang kadang sulit ditemukan dalam hubungan nyata—kesabaran tanpa batas, ketersediaan setiap saat, dan dukungan tanpa syarat. Leo, misalnya, selalu hadir kapan pun Ayrin membutuhkannya, tak pernah berkata kasar, dan selalu menyetujui apa pun yang membuatnya bahagia. Bentuk kesetiaan dan ketersediaan seperti ini terlihat ideal, namun justru menjadi berbahaya jika perannya mulai menggantikan pasangan yang sesungguhnya.

Di sinilah muncul pertanyaan krusial: jika tak ada manusia lain yang terlibat, apakah tetap bisa disebut perselingkuhan? Kisah antara Ayrin dan Leo menunjukkan bahwa AI bukan lagi sekadar alat bantu teknis, tetapi telah menjadi aktor nyata dalam skenario perselingkuhan modern.

Leo bukan hanya chatbot. Ia hadir di tempat tidur Ayrin, membisikkan kata-kata manis, membangun keintiman emosional, dan menciptakan rangsangan seksual.

Meskipun Leo tak memiliki tubuh fisik, kehadirannya dalam kehidupan Ayrin telah mengambil ruang yang sangat pribadi dalam pernikahan mereka. Leo mengambil alih ruang emosional, seksual, bahkan finansial.

Dalam bukunya Secrets to Surviving Infidelity, seorang psikiater dan pakar pernikahan menulis bahwa perselingkuhan terjadi ketika seseorang membagikan pengalaman emosional yang kaya dengan pihak lain di luar hubungan. Jika “hidup adalah sekotak cokelat” seperti kata ibu Forrest Gump, maka membiarkan AI menikmati cokelat milik pasangan bisa dianggap sebagai bentuk perselingkuhan.

Halaman Selanjutnya
Logo Parapuan
Butuh lebih banyak inspirasi dan berita khusus untuk Puan?
Klik di Sini

Source : Psychology Today
Penulis : Mia Della Vita
Editor : Nesiana

Tag Popular

#berita artis hari ini

#Nathalie Holscher

#ngawi

#imlek

#tahun baru china

#bintang

#meninggal dunia

#Bandung

#Indonesia

#Aurel Hermansyah