Laporan Wartawan Grid.ID, Ragillita Desyaningrum
Grid.ID - Tahlilan tujuh hari wafatnya legenda musik Indonesia, Titiek Puspa, digelar penuh khidmat pada Kamis malam (17/4/2025) di Auditorium Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), Jakarta.
Suasana tahlilan terasa berbeda dari biasanya. Sebab, seluruh tamu kompak mengenakan pakaian berwarna putih. Padahal, biasanya orang mengenakan busana berwarna hitam seperti lazimnya tradisi berkabung.
Nuansa putih dalam acara doa bersama ini bukan tanpa alasan. Warna tersebut merupakan permintaan langsung dari almarhumah Titiek Puspa semasa hidupnya.
"Iya, sebenarnya ini keinginan ibu saya sejak lima tahun lalu," ungkap Petty Tunjungsari, putri sulung Titiek Puspa, kepada awak media, usai acara tahlilan.
Petty mengenang, ibundanya sering kali mengutarakan harapan agar kelak saat ia tiada, orang-orang yang datang tidak memakai pakaian hitam. Dia pun mengabulkan keinganan sang ibunda.
"Dia (Titiek Puspa) selalu ngomong. Kadang-kadang aku enggak nanya, tapi dia ngomong, 'nanti kalau aku mati, yang datang mesti putih ya, aku enggak suka hitam'," ucap Petty sambil menirukan kalimat mendiang ibunya.
Menurut Petty, ibunya tidak ingin suasana duka berkepanjangan menyelimuti orang-orang yang ditinggalkannya. Titiek Puspa lebih memilih kesucian warna putih sebagai simbol keikhlasan dan semangat untuk terus melangkah ke depan.
"Jadi maksudnya dia mau supaya… ya memang sedih, tapi dia enggak mau membuat teman-temannya sedih terus-menerus," ujarnya.
"Jadi ya ikhlaskan, move on, maju terus, karena memang yang diinginkan ibu saya itu mencintai negeri ini," lanjutnya.
Tak hanya itu, Titiek Puspa juga sempat menyampaikan keinginan untuk dimakamkan di samping makam kedua orang tuanya. Wasiat itu disampaikan dua hari sebelum ia jatuh sakit pada 26 Maret 2025.
Baca Juga: Haru, Terungkap Pesan Cinta Terakhir Anak dan Cucu untuk Titiek Puspa di Buku Yasin
| Penulis | : | Ragillita Desyaningrum |
| Editor | : | Nesiana |