Grid.ID- Tren penggunaan layanan keuangan paylater terus meningkat di kalangan anak muda, terutama generasi Y dan Z.
Namun, tanpa perencanaan yang matang, penggunaan paylater dapat berdampak negatif pada kesehatan finansial dan mental penggunanya.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan para psikolog mengingatkan pentingnya kesadaran sebelum memanfaatkan fasilitas ini agar tidak terjebak dalam pola konsumtif yang berisiko.
Fenomena Konsumtif dan Dampaknya pada Mental
Mengutip Kompas.com, anggota Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, mengungkapkan bahwa mayoritas anak muda memiliki pengeluaran lebih besar daripada pemasukan.
Menurut survei independen, 50% generasi Y dan 60% generasi Z mengalami kondisi ini.
Salah satu penyebabnya adalah penggunaan paylater yang tidak terkontrol.
Psikolog klinis Disya Arinda menekankan bahwa faktor psikologis, seperti Fear of Missing Out (FOMO) dan You Only Live Once (YOLO) dapat memperparah pola hidup konsumtif.
Riset GlobalWebIndex menyebutkan bahwa 62% individu yang mengalami FOMO berusia 16–34 tahun, sementara survei OCBC menemukan bahwa 80% anak muda mengeluarkan uang hanya untuk mengikuti gaya hidup teman.
Jika tidak dikelola dengan baik, penggunaan paylater dapat menimbulkan stres finansial dan kecemasan akibat tagihan yang menumpuk.
Oleh karena itu, diperlukan strategi agar paylater bisa dimanfaatkan secara bijak tanpa menimbulkan tekanan psikologis.
Tips Menggunakan Paylater Secara Sehat
| Source | : | KOMPAS.com,Kontan.co.id |
| Penulis | : | Mia Della Vita |
| Editor | : | Ayu Wulansari K |