Grid.ID- Umat Kristiani akan merayakan Hari Paskah 2026 sebagai momen untuk memperingati kebangkitan Yesus Kristus sebagaimana tertulis dalam Kitab Perjanjian Baru. Dalam setiap perayaan ini, telur Paskah selalu hadir sebagai salah satu simbol yang paling identik.
Telur berwarna-warni kerap menghiasi taman bermain, rumah, hingga rak toko-toko, sementara tradisi menghias dan mencari telur Paskah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kemeriahan hari suci tersebut. Di balik tampilannya yang meriah, telur Paskah ternyata menyimpan sejarah panjang yang berakar dari tradisi kuno dan praktik keagamaan.
Asal-usulnya disebut sudah dikenal sejak Eropa abad pertengahan, bahkan dikaitkan dengan festival pagan Anglo-Saxon. Lalu, makna telur Paskah berkembang menjadi simbol kehidupan baru, kebangkitan, dan kemenangan iman dalam perayaan Paskah.
Asal Usul Telur Paskah
Sejarah telur Paskah disebut bermula di Eropa pada abad pertengahan. Profesor Sejarah University of Nebraska, Carole Levin, mengatakan banyak pakar meyakini tradisi ini berasal dari festival Anglo-Saxon atau pagan yang merayakan Dewi Eastre dan datangnya musim semi. Musim semi dipandang sebagai lambang kebangkitan alam setelah musim dingin.
Menurut Levin, beberapa misionaris Kristen diduga sengaja merayakan hari-hari suci Kristen pada waktu yang sama dengan festival pagan agar mendorong pertobatan, terutama jika sebagian simbol lama tetap dipertahankan. Dalam festival Eastre, telur menjadi bagian penting dari perayaan. Telur disebut dimakan dalam festival tersebut dan bahkan kemungkinan dikubur di tanah sebagai simbol untuk mendorong kesuburan.
Selain dikaitkan dengan festival kuno, tradisi telur Paskah juga disebut berkembang karena alasan keagamaan dan kepraktisan. Dikutip dari History, tradisi ini sudah ada setidaknya sejak abad ke-13. Pada masa itu, telur menjadi makanan terlarang selama masa pra-Paskah karena umat Kristiani menjalani puasa dan tidak boleh mengonsumsi daging maupun produk hewani lain seperti keju, susu, krim, dan telur.
Karena itulah, orang-orang kemudian melukis dan menghias telur untuk menandai berakhirnya masa penebusan dosa dan puasa. Setelah itu, telur dimakan pada Hari Paskah sebagai simbol perayaan.
Dalam penjelasan lain, Henry Kelly, profesor studi abad pertengahan di University of California, Los Angeles, menyebut telur yang terus dihasilkan ayam selama masa puasa biasanya direbus agar tahan lama. Telur tersebut lalu dibagikan kepada orang miskin atau mereka yang tidak mampu membeli daging untuk merayakan Paskah.
Tradisi Menghias Telur
Dilansir dari Britannica, tradisi mewarnai dan menghias telur Paskah telah dipraktikkan di gereja-gereja Ortodoks Timur dan Barat sejak abad pertengahan. Saat itu, gereja melarang makan telur selama Pekan Suci, tetapi ayam tetap bertelur. Karena itulah, telur-telur tersebut kemudian dihias.
Baca Juga: Asal Usul Kelinci jadi Simbol Perayaan Paskah, Benarkah Berawal dari Cerita Rakyat Bangsa Eropa?
| Source | : | Kompas.com,Tribunnews.com |
| Penulis | : | Mia Della Vita |
| Editor | : | Desy Kurniasari |