Grid.ID - Suasana makam penyanyi Vidi Aldiano masih ramai dikunjungi oleh para peziarah dari berbagai kota. Bahkan tak jarang ada peziarah yang hadir dari luar kota.
Setiap harinya, makam tersebut dipenuhi oleh orang-orang yang ingin memberikan doa dan penghormatan terakhir. Tidak hanya keluarga dan kerabat, tetapi juga para penggemar serta masyarakat umum yang merasa terhubung dengan sosok Vidi.
Melihat kondisi tersebut, ayahanda Vidi, Harry Kiss, mengungkapkan refleksi yang cukup mendalam. Ia menyoroti kebiasaan umum manusia dalam berdoa yang cenderung berfokus pada kebutuhan duniawi, seperti rezeki, kesehatan, dan jodoh.
Menurutnya, sangat jarang seseorang memanjatkan doa agar kelak setelah meninggal dunia tetap dikenang sebagai pribadi yang baik dan didoakan banyak orang.
"Kita kan kalau doa apa sih? Rezeki, terus kesehatan, terus apa lagi? Jodoh, iya jodoh. Pernah nggak kalian berdoa supaya begitu kalian meninggal itu banyak yang mengenang kalian ya, banyak yang mendoakan, banyak yang ngirim Al-Fatihah," ujar Harry Kiss di TPU Tanah Kusir pada Kamis (26/3/2026).
Menurutnya, putra sulungnya itu adalah sebuah inspirasi bagi dirinya. Vidi Aldiano, dalam hal ini, dianggap berhasil menghadirkan keseimbangan tersebut.
Selain dikenal sebagai musisi, ia juga dipandang sebagai pribadi yang memiliki sikap baik dan mampu menjalin kedekatan dengan banyak orang. Hal inilah yang kemudian membuat kepergiannya meninggalkan duka mendalam sekaligus rasa kehilangan yang luas di masyarakat.
"Nah Vidi itu inspirasi-lah," sambungnya.
Harry Kiss pun mengaku kini mulai menambahkan doanya kepada Tuhan. Ia ingin dikenang sebagai orang baik dan terus didoakan setelah meninggal.
"Jadi doanya itu sekarang ditambah, 'Ya Allah supaya waktu saya meninggal saya itu tetap dikenang sebagai orang baik, didoakan banyak orang, dikunjungi banyak orang makamnya'," katanya.
Ia memulai doa tersebut usai merasa terharu karena makam sang anak tak pernah sepi dari peziarah.
Baca Juga: Visa Haji Vidi Aldiano Sudah Terbit, Harry Kiss Ungkap Fakta Pilu Usai Sang Putra Meninggal
| Penulis | : | Christine Tesalonika |
| Editor | : | Nesiana |