Grid.ID – Kasus pembunuhan tragis yang menimpa Dewhinta Anggary (Anggi), cucu dari seniman legendaris Mpok Nori, mengungkap sisi lain dari kehidupan pelakunya, FD. Pria berkewarganegaraan Irak itu ternyata memiliki rekam jejak pekerjaan yang tidak menentu sebelum akhirnya nekat menghabisi nyawa istri sirinya di Bambu Apus, Jakarta Timur.
Keluarga korban membeberkan bahwa kondisi ekonomi dan status pekerjaan pelaku yang kian terpuruk diduga menjadi salah satu pemantik kecemburuan buta dan konflik rumah tangga mereka.
Kakak kandung korban, Diah (40), mengungkapkan bahwa FD awalnya memiliki pekerjaan di bidang perdagangan. Saat masih tinggal bersama Anggi di kawasan Puncak, Bogor, FD diketahui bekerja di sebuah usaha parfum.
"Kalau dulu pas di Puncak, dia kerja jadi bagian parfum. Saya enggak ngerti detailnya bagian apa, tapi memang di bidang parfum," ujar Diah saat diwawancarai di kediamannya di kawasan Bambu Apus, Jakarta Timur, Minggu (24/3/2026).
Pekerjaan tersebut sempat berlanjut ketika pasangan ini pindah ke Jakarta. FD diketahui sempat bekerja di kawasan pusat perbelanjaan Mangga Dua, Jakarta Utara, masih di bidang yang sama, yakni perdagangan parfum.
Namun, kondisi tersebut berubah drastis belakangan ini. Menurut pengamatan keluarga, FD tidak lagi memiliki penghasilan tetap. Diah menyebut dirinya jarang melihat FD berangkat bekerja secara rutin layaknya orang berkantor atau berdagang.
"Pas adik saya sudah mulai kerja, dia (pelaku) malah enggak ada pemasukan. Saya enggak pernah melihat dia berangkat kerja. Walaupun dia ngomong kerja, tapi jamnya 'ngalor-ngidul' (tidak menentu)," lanjut Diah.
Kekosongan pemasukan ini membuat FD harus mengandalkan bantuan finansial dari luar negeri. Diah membeberkan bahwa pelaku sering menelepon kerabatnya di kampung halaman untuk meminta bantuan uang.
"Yang saya tahu, kalau dia enggak punya duit, dia telepon orang di kampungnya di Irak, minta kirimin uang," ungkapnya.
Baca Juga: Terbakar Cemburu, Pelaku Bawa Kabur HP Cucu Mpok Nori untuk Cari Bukti Selingkuh
Masalah pekerjaan ini menjadi bom waktu ketika Anggi, sang korban, justru mulai meniti kemandirian ekonomi. Anggi diketahui baru saja diterima bekerja di program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai tenaga pengelola.
Kemajuan karier Anggi justru memicu gesekan. FD, yang secara budaya memiliki prinsip bahwa istri tidak boleh memegang uang sendiri, merasa terancam dengan lingkungan baru Anggi yang kini memiliki banyak rekan kerja dan aktivitas di luar rumah.
| Penulis | : | Ulfa Lutfia Hidayati |
| Editor | : | Desy Kurniasari |