Grid.ID - Hanung Bramantyo akhirnya buka suara terkait unggahannya baru-baru ini mengenai pemindahan speaker masjid yang ia kelola. Seperti diketahui, Hanung Bramantyo mengelola sebuah masjid, yaitu Masjid Salim Kamil.

Bagi Hanung, pemindahan speaker adalah bentuk edukasi yang ia berikan jadi bentuk ijtihad dalam mengelola Masjid Salim Kamil. Tentu saja hal ini dilakukan agar bisa menjadi tempat yang merangkul untuk semua orang.

"Itu adalah bagian dari ijtihad kami membuat masjid. Masjid itu harus merahmati siapapun tidak hanya orang Islam. Kalau kita tidak bisa bersama-sama dalam beribadah, maka kita harus bersama-sama dalam kemanusiaan," tutur Hanung saat ditemui usai Salat Id di Jagakarsa, Jakarta Selatan pada Sabtu (21/3/2026).

Menurut Hanung, speaker menjadi hal yang paling sensitif belakangan ini. Hal tersebut dikarenakan speaker yang tidak bisa digunakan pada tempat dan waktunya.

"Speaker masjid itu memang hal yang paling sensitif sekarang ini, tidak hanya untuk yang bukan beragama Islam, yang beragama Islam itu kadang juga merasa peka karena speaker tidak digunakan pada tempat dan waktunya," lanjut Hanung.

Ia memberikan contoh sederhana mengenai penggunaan speaker untuk azan. Menurutnya, azan memiliki waktu yang jelas dan tidak dilakukan secara sembarangan, seperti pada tengah malam tanpa alasan yang sesuai.

Jika digunakan sesuai fungsi dan waktunya, maka azan tidak seharusnya menjadi sumber gangguan. Namun, persoalan muncul ketika speaker luar digunakan untuk kegiatan lain seperti tadarus atau kajian tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan sekitar.

"Contoh speaker itu hanya untuk azan. Dan azan itu berhenti jam 7, enggak ada azan jam 12 malam. Jadi kalau ada yang terganggu jam 7 ya berarti orang itu yang bermasalah. Tetapi kalau speaker itu digunakan untuk selain azan, tiba-tiba tadarus, kajian, terus kemudian pakai speaker luar, tujuannya buat apa?" tanya Hanung.

Ia berpendapat bahwa perubahan spiritual seseorang tidak terjadi karena suara yang keras, melainkan karena sikap yang lembut, penuh empati, dan perhatian terhadap sesama manusia. Kesantunan dan kepedulian justru menjadi kunci utama dalam menyampaikan nilai-nilai keagamaan.

"Memangnya dengan ada kajian pakai speaker terus orang berbondong-bondong masuk Islam? Enggak ada yang namanya orang hijrah masuk Islam itu gara-gara speaker. Tapi gara-gara kesantunan kita, gara-gara perhatian kita kepada umat manusia," papar Hanung.

Ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada pihak-pihak yang mungkin merasa tidak nyaman dengan pernyataan atau kebijakan yang ia ambil. Namun, ia menegaskan bahwa langkah tersebut dilandasi oleh niat untuk menjaga marwah masjid sebagai tempat yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.

Baca Juga: Bangun Masjid Bareng Zaskia Adya Mecca, Hanung Bramantyo Jadi Imam Tarawih

Halaman Selanjutnya

Penulis : Christine Tesalonika
Editor : Ayu Wulansari K

Tag Popular

#berita artis hari ini

#harimau

#Ammar Zoni

#paskah

#anak

#pegawai

#Indonesia

#meninggal dunia

#maia estianty

#viral