Grid.ID - Mencari ide menu buka puasa yang hangat, berkuah, dan menyegarkan? Soto daging sapi adalah jawabannya.
Aroma rempahnya yang menggugah selera dipadukan dengan kuah kaldu yang gurih dijamin bisa mengembalikan energi setelah seharian berpuasa. Sayangnya, banyak orang yang ragu menyantap hidangan ini karena kuahnya kerap kali terasa terlalu berminyak, kental, dan bikin enek di tenggorokan.
Padahal, sajian soto daging yang sempurna seharusnya memiliki cita rasa kaldu yang kuat dan kaya rempah, namun tetap terasa ringan tanpa adanya genangan lemak berlebih di permukaannya.
Nah, sebelum kita membongkar rahasia dapurnya, Sobat Grid sudah tahu belum dari mana asal mula makanan berkuah favorit sejuta umat ini?
Meski kini dikenal sebagai salah satu identitas kuliner kebanggaan Nusantara, sejarah mencatat bahwa soto sebenarnya mendapat banyak pengaruh dari tradisi kuliner Tiongkok. Hal ini diungkapkan dalam buku Nusa Jawa Silang Budaya: Jaringan Asia, yang menjelaskan bahwa masakan Tionghoa memiliki andil besar dalam cikal bakal hidangan ini.
Istilah "soto" sendiri diyakini berakar dari kata caodu atau jao to. Makanan ini mulai merebut hati masyarakat pribumi pada abad ke-19, khususnya di kawasan pesisir utara Pulau Jawa seperti Semarang, Madura, dan daerah sekitarnya.
Sebuah riset dari akademisi Universitas Brawijaya, Ary Budiyanto dan Intan Kusuma Wadhani, melalui jurnal berjudul Menyantap Soto Melacak Jao To, mengkaji bahwa soto pada awalnya adalah makanan kelas pekerja. Kepopulerannya meroket berkat para pedagang Tionghoa pada masa lampau yang mempekerjakan warga lokal untuk menjajakan caodu ini secara berkeliling menggunakan pikulan.
Seiring berjalannya waktu, resep asli tersebut berasimilasi dengan lidah dan ketersediaan rempah lokal. Tak heran jika hari ini kita mengenal beragam variasi dari berbagai daerah, mulai dari Soto Betawi, Coto Makassar, hingga Soto Lamongan.
Lantas, bagaimana cara menghasilkan kuah soto daging yang jernih, gurih, dan tidak bikin enek?
Melansir dari buku Retnos Indonesische Köstlichkeiten: 54 ausgewählte Indonesische Rezepte (2013) karya Retno Goemelar yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama via Kompas.com, rahasia utamanya ternyata terletak pada teknik pengolahan daging sapi dan pengaturan suhu saat perebusan.
Banyak orang melakukan kesalahan dengan langsung merebus daging dalam waktu lama tanpa membuang kotorannya. Hal inilah yang membuat sisa darah, kotoran, dan lemak larut bersatu membuat kuah menjadi keruh dan berat. Kesalahan lainnya adalah menggunakan terlalu banyak minyak goreng saat menumis bumbu halus.
Baca Juga: Resep Overnight Oatmeal, Menu Simple yang Mudah Dibuat untuk Sahur di Bulan Ramadan 2026
| Penulis | : | Devi Agustiana |
| Editor | : | Ayu Wulansari K |