Grid.ID- Perayaan Tahun Baru Imlek selalu menjadi momen penting bagi masyarakat Tionghoa untuk berkumpul bersama keluarga dan kerabat. Pada Imlek 2026, tradisi silaturahmi kembali menjadi bagian tak terpisahkan dari suasana perayaan.
Di Indonesia, Imlek 2026 juga identik dengan tradisi open house, di mana teman dan kolega dipersilakan berkunjung. Namun, bertamu saat Imlek 2026 tidak sekadar datang dan bersalaman.
Ada etika, sikap, serta simbol-simbol budaya yang perlu dipahami agar kunjungan tetap sopan dan berkesan. Memahami tata cara bertamu yang benar saat Imlek 2026 menjadi wujud penghormatan terhadap tradisi dan keberagaman budaya yang hidup di masyarakat.
Mengapa Etika Bertamu Penting Saat Imlek 2026?
Imlek 2026 bukan hanya perayaan pergantian tahun dalam kalender Tionghoa, tetapi juga simbol harapan, doa, dan energi positif untuk tahun yang baru. Karena itu, setiap interaksi sosial selama Imlek 2026 sarat makna, termasuk ketika seseorang datang bertamu.
Sebagai tamu, memahami cara bertamu yang benar ke rumah teman yang merayakan Imlek 2026 sangat penting agar silaturahmi berjalan lancar dan penuh makna. Berikut 10 etika bertamu yang perlu diperhatikan saat Imlek 2026, sebagaimana dikutip Tribun Jogja, Minggu (15/2/2026).
1. Datang di Waktu yang Tepat
Saat Imlek 2026, tuan rumah biasanya memiliki agenda keluarga dan menerima banyak tamu. Karena itu, memperhatikan waktu kunjungan menjadi bentuk penghormatan dasar.
Datang terlalu pagi atau terlalu malam bisa dianggap kurang sopan dan berpotensi mengganggu kenyamanan keluarga inti. Dengan menyesuaikan waktu, tamu turut menjaga suasana Imlek 2026 tetap tertib dan menyenangkan.
2. Kenakan Pakaian yang Sopan dan Rapi
Penampilan menjadi kesan pertama saat bertamu di Imlek 2026. Mengenakan pakaian rapi dan sopan mencerminkan sikap menghargai tuan rumah serta momen hari raya.
Warna cerah seperti merah atau warna netral lebih dianjurkan karena melambangkan keberuntungan. Sebaliknya, pakaian serba hitam atau putih sebaiknya dihindari karena dalam tradisi Tionghoa warna tersebut kerap diasosiasikan dengan suasana duka.
| Source | : | Tribun Jogja,KOMPAS.com |
| Penulis | : | Mia Della Vita |
| Editor | : | Nesiana |