Grid.ID - Ketua BEM UGM mendapat serangan teror usai mengirim surat ke UNICEF terkait kasus kematian anak SD di NTT yang tak mampu beli alat tulis. Kasus teror ini pun viral hingga DPR RI ikut buka suara.
Belakangan publik dibuat pilu dengan kabar seorang bocah SD di NTT mengakhiri hidupnya lantaran tak mampu membeli alat tulis. Kasus ini pun mengetuk hati Tiyo Ardianto, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM).
Tiyo pun berinisiatif menyuarakan kasus ini di media sosial. Tak hanya bersuara lantang di media, Tyo juga mengirimkan surat resmi kepada UNICEF.
Namun, tak lama setelah dirinya bersuara soal kasus ini, Tiyo justru mendapat pesan ancaman dan teror dari nomor asing. Apa isi pesannya? Dan bagaimana awal mula ini semua terjadi?
Kronologi Ketua BEM UGM Diteror
Teror yang diterima oleh ketua BEM UGM Tiyo Ardianto ini bermula dari aksinya yang lantang bersuara soal kasus anak SD di NTT yang meninggal dunia akibat tak mampu membeli alat tulis yang harganya hanya Rp 10 ribu. Kepada UNICEF, Tiyo menulis surat yang berisi keresahannya terhadap masa depan anak bangsa.
Tiyo menulis, “What kind of world do we live in when a child loses his life because he cannot afford a pen and a book?”.
"Dunia macam apa yang kita tinggali ketika seorang anak kehilangan nyawanya karena dia tidak mampu membeli pena dan buku?" tulisnya dikutip Grid.ID dari Surya Malang, Minggu (15/2/2026).
Ia menekankan bahwa tragedi ini bukanlah nasib atau kejadian terisolasi, melainkan akibat 'systemic failure' (kegagalan sistemik) dan kegagalan negara melindungi warga paling rentan. Tiyo meminta UNICEF meningkatkan perannya di Indonesia, terutama dalam memperkuat perlindungan anak, menjamin anggaran pendidikan, dan mencegah kematian yang seharusnya bisa dihindari akibat kegagalan kebijakan.
Namun, hanya berselang empat hari setelah BEM melayangkan kritik tajamtersebut, Tiyo melaporkan adanya pesan WhatsApp bernada ancaman penculikan yang dikirim dari nomor misterius dengan kode negara Inggris.
Pesan itu berisi kata-kata mengancam seperti: “Agen asing”, “Culik mau?”, “Jangan cari panggung jadi tongkosong”, “Cari dosamu entr” “Banci” “Jangan cari panggung loe ya jual narasi sampah”.
| Source | : | Tribun Style,Surya Malang |
| Penulis | : | Nindya Galuh Aprillia |
| Editor | : | Nindya Galuh Aprillia |