Grid.ID - Sosok bocah SD yang akhiri hidup di pohon cengkeh di Ngada, NTT, dikenal sebagai anak yang cerdas dan rajin membantu sang nenek jualan. Tewasnya bocah 10 tahun ini mengejutkan semua pihak, termasuk keluarga, kerabat dan tetangga korban.
Kabar mengejutkan baru-baru ini datang dari sebuah keluarga sederhana di Kampung Dona, Desa Naruwolo, Kecamatan Jerebu'u, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Bocah 10 tahun berinisial YBR, nekat mengakhiri hidupnya sendiri di pohon cengkeh, di dekat tempat tinggalnya, pada Kamis (29/1/2026) sekitar pukul 12.30 WITA.
Anak bungsu dari 5 bersaudara itu tinggal di sebuah gubuk bambu berukuran 2x3 meter bersama sang nenek, WN (80). Ayah YBR sendiri telah lama pergi merantau ke Kalimantan dan tak pernah kembali, sementara ibunya, MGT (47), tinggal di rumah lain.
Sosok bocah SD yang akhiri hidup di pohon cengkeh, NTT ini dikenal sebagai pribadi yang ceria, cerdas, serta rajin membantu neneknya berjualan sayur sepulang sekolah. Dalam himpitan ekonomi yang terbatas, YBR dan neneknya sehari-hari hanya makan seadanya, yakni pisang dan ubi, hasil dari kebun.
Ibunya sendiri bekerja sebagai petani dan buruh serabutan untuk menafkahi kelima anaknya. Kondisi inilah yang memaksa YBR diasuh oleh sang nenek sejak usianya 1 tahun 7 bulan.
Menurut sang nenek, cucunya tersebut merupakan anak yang pendiam dan penurut. Pelajar SD itu juga tidak menunjukkan perilaku aneh sedikitpun.
Terakhir kalinya, YBR sempat meminta untuk dibelikan buku tulis dan pulpen untuk sekolah, akan tetapi orangtua tidak bisa memenuhinya karena tidak ada uang.
"Kami selalu berusaha penuhi, semampu kami," ungkap sang nenek dengan suara lirih, dikutip dari Tribun Flores.
Sang ibu, MGT mengungkapkan saat-saat terakhir dirinya bertemu dengan sang anak. Menurutnya, pagi itu (29/1/2026), YBR mengeluh pusing dan enggan berangkat ke sekolah.
MGT lalu membujuk YBR agar tetap berangkat ke sekolah dengan naik ojek agar sang anak tidak tertinggal pelajaran. Akan tetapi, siang itu, kabar duka tiba-tiba menghampiri.
Bak petir di siang bolong, MGT mendadak diberitahu oleh tetangga bahwa anaknya telah meninggal. MGT mengira putra bungsunya tersebut sedang berada di sekolah.
Baca Juga: Kronologi Anak SD Bunuh Diri di NTT, Putus Asa Tak Mampu Beli Buku dan Pena Seharga Rp 10 Ribu
| Source | : | Kompas.com,tribunflores.com |
| Penulis | : | Ayu Wulansari K |
| Editor | : | Ayu Wulansari K |