Grid.ID - Industri animasi Asia Tenggara kembali menunjukkan geliat positif lewat kehadiran film animasi terbaru asal Malaysia berjudul Papa Zola The Movie. Film ini dijadwalkan tayang di Indonesia pada Januari 2026 dan menjadi salah satu tontonan yang paling dinantikan, khususnya bagi para penggemar semesta BoBoiBoy. Pasalnya, Papa Zola The Movie merupakan spin-off yang menghadirkan karakter ikonik Papa Zola dalam cerita yang lebih luas dan mendalam.

Di balik penayangannya yang kian dekat, terungkap bahwa proses produksi Papa Zola The Movie bukanlah proyek yang singkat maupun murah. Nizam Abdul Razak selaku sutradara sekaligus penulis skenario membagikan cerita panjang mengenai perjalanan kreatif film animasi tersebut. Ia mengungkapkan bahwa total pengerjaan proyek ini memakan waktu hingga tiga tahun.

"Production total dua tahun. Dua tahun tapi total project-nya tiga tahun. Satu, kita setahun pre-production, ceritanya, skripnya, then kita masuk production dua tahun. So total 3 years," ujar Nizam Abdul Razak di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan, pada Jumat (9/1/2026).

Menurut Nizam, tahap praproduksi menjadi fondasi penting dalam pengembangan film ini. Proses tersebut meliputi pengembangan cerita, penulisan skenario, hingga pematangan konsep visual agar karakter Papa Zola dapat tampil lebih kuat dan relevan bagi penonton lintas usia. Setelah praproduksi rampung, tim kemudian melanjutkan ke tahap produksi yang berlangsung selama dua tahun penuh.

Konferensi pers film animasi Papa Zola The Movie di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan, pada Jumat (9/1/2026).
Grid.ID / Christine Tesalonika
Konferensi pers film animasi Papa Zola The Movie di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan, pada Jumat (9/1/2026).

Tak hanya menyita waktu, biaya produksi Papa Zola The Movie juga tergolong fantastis untuk ukuran animasi Asia Tenggara. Nizam menyebutkan bahwa total anggaran yang dihabiskan mencapai 5 juta dolar Amerika Serikat atau setara lebih dari Rp80 miliar.

"5 juta US dollar end-to-end. Artinya, itu bukan hanya biaya produksi, tetapi juga termasuk biaya pemasaran," sambungnya.

Besarnya anggaran tersebut mencerminkan keseriusan tim produksi dalam menghadirkan kualitas animasi yang mumpuni, baik dari segi visual, cerita, maupun strategi distribusi. Nizam menambahkan bahwa biaya besar ini juga tak lepas dari status Papa Zola The Movie sebagai pengembangan Intellectual Property (IP) yang ingin diperkuat secara mandiri.

"Biasanya untuk memulai IP baru, biayanya memang lebih besar dibandingkan IP-IP yang sudah ada sebelumnya," ujar Nizam.

Meski berangkat dari semesta BoBoiBoy yang telah dikenal luas, Papa Zola The Movie tetap diposisikan sebagai karya yang berdiri sendiri. Oleh karena itu, pengembangan karakter, dunia cerita, serta pendekatan naratif dilakukan dengan sangat hati-hati agar dapat diterima oleh penonton baru tanpa meninggalkan penggemar lama.

Dalam proses produksinya, tim Papa Zola The Movie juga menggandeng berbagai pihak, termasuk studio animasi lokal dari Indonesia. Hal ini menunjukkan kuatnya kolaborasi lintas negara dalam industri animasi regional.

Baca Juga: Rey Mbayang Jadi Youtuber Slengean di Film Bidadari Surga, Dinda Hauw Akui Sempat Geli

Halaman Selanjutnya

Penulis : Christine Tesalonika
Editor : Ayu Wulansari K

Tag Popular

#tahun baru china

#berita artis hari ini

#bintang

#imlek

#Nathalie Holscher

#ngawi

#Bandung

#Okie Agustina

#Indonesia

#dewi perssik