Grid.ID - Provinsi Aceh kembali diselimuti duka mendalam. Bahkan, Gubernur Aceh menyatakan bahwa dampak dari bencana banjir kali ini sama dengan tragedi Tsunami 2004 silam.
Banjir besar yang melanda Aceh saat ini menjadi bencana yang sangat parah. Bencana ini telah meluas di hampir seluruh wilayah provinsi dan menimbulkan dampak yang masif.
Distribusi logistik darurat melalui akses darat ke wilayah yang terisolasi bahkan kini lumpuh. Akibatnya, logistik darurat didistribusikan melalui jalur udara.
Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, mengungkapkan kondisi kritis yang terjadi di wilayahnya. Ia bahkan menyebut bencana yang melanda Aceh kali ini sebagai "Tsunami ke-2".
Melansir Kompas.com, memasuki hari kesembilan pascabanjir besar yang melanda Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, mulai terlihat betapa dahsyatnya dampak bencana tersebut. Salah satu kejadian paling ekstrem terjadi di Desa Blang Peuria, Kecamatan Samudera, di mana sebuah rumah warga bergeser sekitar 500 meter dari lokasi asal hingga ke badan jalan.
Hingga Minggu (30/11/2025), rumah tersebut masih berada di badan jalan karena terseret kuatnya arus banjir. Selain itu, lima rumah lainnya hanyut dan hancur terbawa arus.
Diberitakan bahwa banjir merendam sejumlah wilayah lainnya di Aceh, yakni Kabupaten Aceh Timur, Kota Lhokseumawe, Kabupaten Bireuen, Kota Langsa, Pidie, Pidie Jaya, dan Kabupaten Aceh Utara.
Ditilik dari akun Instagram @rumpi_gosip, dalam pernyataannya, Gubernur Aceh mengungkapkan kondisi kritis di lapangan. Ia bahkan menyebut bencana kali ini sebagai "Tsunami ke-2".
Ia memperkirakan dampaknya mungkin "lebih dahsyat ini dari Tsunami" sebelumnya. Pernyataan tersebut disampaikan menyusul adanya laporan mengenai desa-desa yang terputus total atau bahkan 'hilang' akibat diterjang air bah dan tanah longsor.
"Ada beberapa kampung hilang entah ke mana bah, yaitu Sawang, Jamboane, Bireuen, dan Peusangan. Malam itu 4 kampung juga tak tahu entah kemana. Jadi, Aceh sekarang Tsunami kedua," ujar sang gubernur.
Empat wilayah yang secara spesifik disebut ialah Kampung Sawang, Jamboane, Bireun (Bireuen), dan Peusangan menjadi fokus perhatian utama. Istilah "hilang entah ke mana" yang disampaikan oleh Gubernur Aceh menggarisbawahi parahnya kerusakan infrastruktur dan komunikasi, yang menyebabkan desa-desa tersebut terisolasi sepenuhnya dan sulit dijangkau, mengulang horor ketika data korban Tsunami sulit dipastikan.
| Source | : | Kompas.com,Instagram @rumpi_gosip |
| Penulis | : | Desy Kurniasari |
| Editor | : | Desy Kurniasari |