Grid.ID - Pernikahan idealnya menjadi tempat dua insan saling memahami dan bertumbuh bersama, namun realitasnya tidak selalu demikian. Banyak pasangan akhirnya memilih berpisah setelah hubungan rumah tangga mereka tak lagi sehat.

Sebuah survei terhadap para konselor dan pakar hubungan menunjukkan, penyebab tertinggi gagalnya pernikahan bukan semata karena perselingkuhan, melainkan komunikasi yang buruk. Kegagalan dalam berkomunikasi dianggap menjadi akar dari berbagai konflik yang kemudian berkembang menjadi alasan perceraian.

Selain itu, kurangnya waktu bersama dan kegagalan memprioritaskan hubungan juga menjadi pemicu utama kehancuran rumah tangga. Fakta ini menyoroti betapa pentingnya komunikasi dan komitmen emosional dalam menjaga fondasi pernikahan tetap kuat.

Komunikasi Buruk Jadi Akar dari Banyak Perceraian

Mengutip Your Tango, Sabtu (1/11/2025), hasil survei menunjukkan bahwa sebagian besar pasangan berakhir dengan perceraian karena masalah komunikasi. Para ahli menilai, komunikasi yang tidak terbuka menciptakan jarak emosional dan memperbesar peluang salah paham. Setelah komunikasi rusak, masalah lain seperti perselingkuhan dan berkurangnya waktu kebersamaan biasanya menyusul.

Fakta menarik lainnya, 54 persen pakar yang disurvei setuju dengan pandangan penulis Dana Adam Shapiro bahwa hanya sekitar 17 persen pernikahan yang benar-benar bahagia. Namun, pelatih hubungan Meri Arnett-Kremian menanggapi temuan ini dengan skeptis.

Menurutnya, angka tersebut bisa bias karena sumber data berasal dari individu yang memang sudah tidak bahagia dalam hubungannya. Ia mempertanyakan, “Bagaimana sebenarnya kita mendefinisikan kebahagiaan dalam pernikahan?”

Selain komunikasi, ada faktor lain yang ternyata berperan besar dalam kehancuran pernikahan yakni rasa ragu sebelum menikah. Berdasarkan penelitian UCLA, 80 persen pakar menyebut bahwa keraguan yang dirasakan calon pengantin perempuan sebelum hari pernikahan sering menjadi pertanda hubungan yang rapuh. Seiring waktu, masalah yang muncul sejak awal justru membesar dan semakin sulit diatasi.

Sementara itu, 74 persen pakar mengungkapkan bahwa perbedaan nilai hidup, terutama terkait anak, keuangan, dan keintiman, menjadi prediktor tertinggi perceraian. Meski demikian, sebagian besar (65 persen) berpendapat bahwa perceraian sama sulitnya bagi pria maupun wanita.

Namun, terapis hubungan Nina Atwood menyatakan sebaliknya, karena secara finansial wanita sering kali lebih terpukul setelah berpisah. Dalam sebuah survei, 46 persen wanita mengaku menghadapi kejutan finansial usai bercerai.

Mediation Lebih Efektif daripada Litigasi dalam Perceraian

Baca Juga: Pernikahan dengan Sahabat Disebut Lebih Bahagia dan Minim Perceraian, Ternyata Begini Penjelasan dari Psikolog

Halaman Selanjutnya
Logo Parapuan
Butuh lebih banyak inspirasi dan berita khusus untuk Puan?
Klik di Sini

Source : Your Tango
Penulis : Mia Della Vita
Editor : Nindya Galuh Aprillia

Tag Popular

#berita artis hari ini

#harimau

#Ammar Zoni

#paskah

#anak

#pegawai

#Indonesia

#meninggal dunia

#maia estianty

#Lucinta Luna