Grid.ID- Mengenal tradisi Tea Pai, upacara teh dalam pernikahan Tionghoa. Ternyata pernah dilakukan oleh Roger Danuarta hingga Dion Wiyoko.
Pernikahan Tionghoa dikenal sangat kaya akan nilai budaya, yang tercermin dalam berbagai ritual, mulai dari sebelum hingga saat hari pernikahan. Salah satu tradisi penting yang masih dijalankan adalah Tea Pai, sebuah upacara minum teh sebagai bentuk penghormatan kepada anggota keluarga yang lebih tua.
Tradisi Tea Pai merupakan bagian penting dari budaya Tionghoa yang telah berakar kuat sejak ribuan tahun lalu dan tetap bertahan meskipun zaman terus berubah, serta budaya asing mulai masuk. Di Indonesia, masyarakat keturunan Tionghoa masih menjalankan prosesi ini sebagai bagian dari upacara pernikahan mereka.
Istilah Tea Pai berasal dari gabungan kata "tea" (teh dalam bahasa Inggris) dan "bai" atau "pai" (拜) dalam bahasa Mandarin, yang berarti memberi hormat. Tradisi ini dilakukan oleh pasangan pengantin baru dengan menyuguhkan teh kepada orang tua dan kerabat senior sebagai simbol rasa terima kasih dan penghormatan.
Tea Pai bukan sekadar ritual minum teh, tapi juga menjadi momen perkenalan resmi antara mempelai wanita dan keluarga besar mempelai pria. Tradisi ini sudah ada sejak masa Dinasti Tang, sekitar 1.200 tahun silam.
Awalnya dikenal dengan nama Cha Dao, ritual ini kemudian dibawa ke Jepang oleh para biksu Jepang yang datang ke Tiongkok. Meski mengalami sedikit penyesuaian dengan budaya Jepang, esensi dari upacara ini tetap terjaga.
Upacara Tea Pai biasanya dilangsungkan pada pagi hari setelah pemberkatan pernikahan dan sebelum acara resepsi. Tradisi ini dihadiri oleh anggota keluarga yang sudah menikah, seperti orang tua, kakek-nenek, paman, bibi, serta saudara kandung.
Prosesi ini menjadi momen penting dalam pernikahan Tionghoa, karena merupakan bentuk penghormatan dari pasangan pengantin kepada keluarga besar, khususnya mereka yang lebih tua. Namun, terdapat beberapa ketentuan yang mengatur siapa saja yang boleh hadir dalam upacara ini.
Adik pengantin yang sudah menikah tidak diperkenankan untuk ikut serta, sementara kakak pengantin tidak boleh hadir jika belum menikah atau jika telah “dilangkahi” oleh adiknya. Meskipun demikian, apabila orang tua pengantin telah meninggal dunia, maka kakak kandung diperbolehkan hadir dan bertindak sebagai wali yang sah dalam prosesi tersebut.
Aturan-aturan ini mencerminkan nilai-nilai tradisional yang dijunjung tinggi dalam budaya Tionghoa. Proses pelaksanaannya cukup sederhana namun sarat makna.
Setelah mengucap sumpah pernikahan, pengantin pria terlebih dahulu menerima teh dari pengantin wanita, kemudian dilanjutkan dengan pengantin wanita yang menyuguhkan teh kepada keluarganya sendiri. Menurut BanjarmasinPost.co.id, Tea Pai juga merupakan bentuk penghormatan dan ucapan terima kasih kepada keluarga.
Baca Juga: Mengenal Konsep Mingle Wedding dalam Pesta Pernikahan Pengantin, Berikut Tipsnya
| Source | : | Banjarmasinpost.co.id,Weddingku |
| Penulis | : | Faza Anjainah Ghautsy |
| Editor | : | Ayu Wulansari K |