Grid.ID - Rasa tidak nyaman dan kekhawatiran menjadi korban pelecehan seksual kerap menjadi alasan mengapa sebagian orang enggan beralih ke transportasi umum.
Dilansir dari survei yang dilakukan oleh Kompasiana bersama PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) pada Juni 2025, diketahui bahwa meskipun kasus kekerasan seksual di transportasi publik tidak masif, tetapi dampaknya terasa nyata dan menimbulkan ketakutan tersendiri.
Temuan ini dipaparkan oleh Chief Operating Officer Kompasiana Heru Margianto dalam forum diskusi bertajuk "Transportasi Publik Tanpa Kekerasan Seksual" yang digelar oleh KCI, Kamis (31/7/2025).
Dari 500 responden pembaca Kompas.com yang disurvei, tujuh persen mengaku pernah mengalami kekerasan seksual, sementara 6 persen lainnya menyaksikannya secara langsung.
Mayoritas menyebut angkot sebanyak 52 persen dan kereta api listrik (KRL) 45 persen sebagai moda transportasi yang paling rawan, disusul taksi dan ojek daring sebesar 31 persen.
Faktor utama penyebab kekerasan seksual menurut responden adalah kepadatan penumpang, diikuti oleh pakaian atau sikap korban, serta minimnya pengawasan petugas.
Temuan ini menunjukkan bahwa persepsi yang menyalahkan korban masih mengemuka.
Menariknya, sebanyak 29 persen responden menilai diri sendiri sebagai pihak yang paling bertanggung jawab mencegah kekerasan, sementara pengelola transportasi hanya disebut oleh 20 persen.
“Ini bukan soal angka, tapi soal martabat manusia,” tegas Heru.
Baca Juga: Sinopsis Drakor Head Over Heels dan Platform Resmi untuk Menontonnya
KCI hadir dengan sistem, pelatihan, dan keberanian bertindak
Merespons hal ini, KCI tidak tinggal diam. Dalam forum tersebut, Vice President KCI Joni Martinus memaparkan pendekatan menyeluruh yang telah dilakukan KCI dalam menciptakan ruang aman di kereta.