Grid.ID- Inilah makna hingga filosofi dari Kembar Mayang. Benda tersebut ternyata bukan hanya sekedar hiasan dalam pernikahan adat Jawa.

Dalam tradisi pernikahan adat Jawa, banyak elemen yang tidak hanya berfungsi sebagai hiasan semata, tetapi juga sarat dengan makna dan filosofi mendalam. Salah satunya adalah kembar mayang, sebuah hiasan khas yang selalu hadir dalam setiap prosesi pernikahan adat Jawa.

Lebih dari sekadar mempercantik suasana, kembar mayang menyimpan simbolisme dan nilai-nilai budaya yang menggambarkan harapan, doa, serta filosofi hidup bagi pasangan pengantin. Tundjung W Sutirto, pemerhati budaya sekaligus dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret (UNS), menjelaskan bahwa kembar mayang pada dasarnya adalah dua untai kembang mayang (bunga pinang) yang dilengkapi dengan sepotong kain cindu dan sindur, yang digantungkan di kepala burung garuda pada pedaringan (senthong) tengah.

Awalnya, kembar mayang disebut gagar mayang karena terdiri dari rangkaian bunga dan janur (daun kelapa muda) yang ditempatkan di sisi kiri dan kanan pelaminan pengantin. Namun, seiring waktu istilah tersebut berubah menjadi kembar mayang untuk menghindari kesalahpahaman dengan kata "gugur" yang berarti mati.

"Padahal, pengertian gagar mayang itu seseorang yang terlepas dari satu keadaan (status), yaitu gugur status kegadisannya atau gugur status jejakanya karena keduanya sudah diikat dalam satu perkawinan dan sudah meningkat kedewasaannya," kata Tundjung, dilansir dari Kompas.com.

Adapun, kembar mayang merupakan rangkaian bunga hias dalam pernikahan adat Jawa yang merepresentasikan paham Hindu. Hal ini terlihat melalui simbol Pohon Kalpataru, pohon kehidupan yang tergambar pada relief Candi Prambanan.

Bentuk kembar mayang tradisional di masyarakat Jawa biasanya terdiri dari janur yang dibuat untiran sepasang, kembang temu, pecut-pecutan, kupat luar, walang-walangan, bunga potro menggolo, serta dedaunan seperti beringin, alang-alang, andong, dan daun puring. Namun, seiring perkembangan zaman, kembar mayang lebih banyak dibuat dari janur yang dirangkai secara artistik tanpa dedaunan.

Kembar mayang biasanya diletakkan dalam sebuah wadah bernama paidon (tempolong) yang terbuat dari kuningan. Pembuatan kembar mayang dilakukan pada malam midodareni, malam sebelum pengantin melaksanakan ijab atau panggih.

Setelah jadi pada tengah malam, dilakukan upacara terbusan yang bermakna dimahari (diberkati). Meski dahulu kembar mayang memiliki makna simbolis yang kuat, Tundjung menjelaskan bahwa saat ini maknanya lebih bersifat dekoratif.

Menurut sejarah dan mitos Jawa, kembar mayang bukanlah hiasan dunia biasa, melainkan milik para dewa. Dalam cerita wayang, ketika Panakawan menikahkan anaknya, pengantin wanita meminta kembar mayang yang hanya dimiliki para dewa.

Kesatria Pandawa pun meminjam kembar mayang tersebut dari para dewa agar pernikahan bisa terlaksana. Karena berasal dari pinjaman para dewa, kembar mayang harus dikembalikan setelah pernikahan, dengan cara diletakkan di perempatan jalan sebagai simbol pengembalian kepada dewa di kayangan.

Baca Juga: Hukum Tunangan Sebelum Pernikahan dalam Islam, Boleh Atau Haram?

Halaman Selanjutnya

Source : Kompas,TribunJateng.com
Penulis : Faza Anjainah Ghautsy
Editor : Ayu Wulansari K

Tag Popular

#berita artis hari ini

#harimau

#Ammar Zoni

#paskah

#anak

#pegawai

#Indonesia

#meninggal dunia

#maia estianty

#Lucinta Luna