Grid.IDBulan Muharram, yang dalam penanggalan Jawa dikenal sebagai Suro, kerap kali menimbulkan pertanyaan di masyarakat, khususnya terkait penyelenggaraan pernikahan. Sebagian besar masyarakat Jawa percaya, gelar pernikahan di bulan Muharram atau Suro adalah pamali dan dapat mendatangkan kesialan.

Namun, benarkah demikian? Mari kita telusuri penjelasannya dari perspektif Islam dan budaya Jawa.

Perspektif Islam

Dikutip dari Tribun Jatim, Minggu (6/7/2025), Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Abbas, menegaskan bahwa larangan gelar pernikahan di bulan Muharram tidak memiliki dasar yang kuat. Ia menyatakan bahwa tidak ada dalil, baik dari ayat Al-Quran maupun hadis Nabi, yang melarang pernikahan di bulan ini.

"Ada orang yang mengatakan bahwa di bulan ini sebaiknya kita jangan mengadakan resepsi pernikahan," ujarnya. "Pandangan seperti demikian tidak memiliki dasar yang kuat, baik dari ayat Al Quran maupun dari hadis."

Anwar Abbas menjelaskan bahwa Muharram justru adalah bulan yang sarat dengan peristiwa penting dan agung dalam sejarah Islam. Di bulan ini, Nabi Nuh AS berhasil lolos dari bahaya banjir besar. Nabi Musa AS juga selamat dari kejaran Firaun.

Selain itu, bulan pertama dalam penanggalan Islam ini menjadi awal peristiwa hijrah. Ini adalah perpindahan Nabi Muhammad SAW dan sebagian kaum muslim dari Mekkah ke Madinah pada 622 Masehi. Perjalanan bersejarah itu salah satunya bertujuan untuk menyelamatkan diri dari tekanan kaum kafir Quraisy.

Oleh karena itu, Anwar Abbas berujar, umat Islam tetap diperbolehkan untuk melangsungkan acara pernikahan selama bulan Muharram. "Tidak masalah (menikah di bulan Muharram)," katanya.

Alih-alih melarang pernikahan, menurut Anwar Abbas, umat Islam justru dianjurkan untuk meningkatkan amal kebaikan di bulan Muharram. Salah satu amal yang sangat dianjurkan adalah berpuasa sunah.

Anjuran ini termaktub dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Hadis itu berbunyi, "Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa bulan Muharam, dan shalat yang paling utama setelah shalat fardu adalah shalat malam."

Puasa sunah pada bulan pertama Hijriah ini kerap disebut sebagai puasa Asyura. Puasa ini dilakukan pada tanggal 10 Muharram. "Puasa sunah di bulan Muharam ini dikenal dengan nama puasa Asyura yang dilakukan pada tanggal 10 Muharam," imbuh Anwar.

Baca Juga: 3 Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Merencanakan Pernikahan dan Cara Menghindarinya

Halaman Selanjutnya
Logo Parapuan
Butuh lebih banyak inspirasi dan berita khusus untuk Puan?
Klik di Sini

Source : Tribun Jatim,KOMPAS.com
Penulis : Mia Della Vita
Editor : Irene Cynthia

Tag Popular

#tahun baru china

#berita artis hari ini

#bintang

#imlek

#Nathalie Holscher

#ngawi

#Bandung

#Okie Agustina

#Indonesia

#dewi perssik