Grid.ID - Perselingkuhan adalah luka batin yang paling sulit disembuhkan dalam sebuah hubungan. Namun, lebih dari sekadar tindakan penghianatan, selingkuh ternyata adalah sebuah pola yang sering kali sulit dihentikan, bahkan oleh pelakunya sendiri.
Banyak terapis pasangan justru enggan menangani kebiasaan selingkuh ketika salah satu pasangan masih aktif menjalani hubungan gelap. Dalam konteks ini, perselingkuhan menjadi semacam "ikatan" baru yang tak kalah kuat dari pernikahan itu sendiri. Dalam beberapa kasus, bahkan lebih sulit untuk diputuskan.
Mengutip Psychology Today, Selasa (22/4/2025), salah satu alasan utama mengapa selingkuh sulit dihentikan adalah karena para pelakunya sering kali tidak benar-benar memahami alasan mendasar dari perselingkuhan tersebut. Banyak terapis yang hanya menanyakan hal-hal dasar seperti kapan selingkuh dimulai, siapa pihak ketiga, dan apakah pelaku berniat meninggalkan pasangan sahnya.
Namun, sangat sedikit dari mereka yang mendorong kliennya untuk menggali lebih dalam mengenai akar dari dorongan untuk selingkuh. Padahal, memahami alasan sejati di balik perselingkuhan justru bisa menjadi kunci utama untuk menghentikannya.
Perselingkuhan sering kali dimulai dari rasa sakit atau kekosongan dalam pernikahan. Seperti rasa tidak dicintai, tidak dipahami, atau tidak dihargai.
Dalam situasi ini, pasangan yang berselingkuh menemukan "pelarian" dalam bentuk hubungan emosional dengan orang lain, yang kemudian berkembang menjadi hubungan fisik. Namun menariknya, para pelaku selingkuh sering kali tanpa sadar memilih pasangan selingkuh yang memiliki kemiripan dengan pasangan sah mereka.
Artinya, merasa merasa telah menemukan "orang yang lebih baik". Namun sebenarnya, mereka hanya terjebak dalam pola hubungan yang serupa.
Fenomena ini memperkuat fakta bahwa selingkuh bukan hanya tentang pencarian gairah baru, melainkan replikasi dari dinamika hubungan yang sudah ada. Seorang pria yang merasa istrinya tidak mampu menyelesaikan masalah rumah tangga, mungkin akan tertarik pada wanita lain yang ternyata juga buruk dalam menyelesaikan konflik.
Seorang wanita yang merasa suaminya terlalu mengontrol, mungkin tanpa sadar menjalin hubungan dengan pria yang sama-sama manipulatif. Inilah sebab mengapa perselingkuhan sulit dihentikan. Karena yang dicari sebenarnya bukan "orang baru", tetapi pengulangan pola yang sudah familiar.
Dalam jangka panjang, hal ini menjelaskan mengapa sebagian besar hubungan yang berawal dari perselingkuhan akhirnya gagal. Studi menunjukkan bahwa sekitar 85 hingga 90 persen pernikahan yang terbentuk dari hubungan selingkuh justru berakhir dengan perceraian.
Ini karena ketika "fantasi" perselingkuhan harus bersinggungan dengan realitas kehidupan sehari-hari, ilusi yang selama ini membungkus hubungan itu akan pudar. Pada akhirnya, konflik yang sama akan muncul kembali, hanya dengan wajah yang berbeda.
Baca Juga: 8 Faktor yang Jadi Penyebab Selingkuh, Bisa Soal Balas Dendam sampai Hasrat Seksual
| Source | : | psychology today |
| Penulis | : | Mia Della Vita |
| Editor | : | Nindya Galuh Aprillia |