Grid.ID - Telur Paskah merupakan salah satu simbol yang paling ikonik dalam perayaan Paskah. Ternyata tradisi telur Paskah ini sudah ada sejak ribuan tahun lalu.
Tradisi menghias dan membagikan telur identik dengan perasaan sukacita, kehidupan baru, dan kebangkitan. Konsep ini berkaitan erat dengan makna religius dari Paskah dalam Kekristenan.
Namun, asal-usul telur Paskah memiliki sejarah yang jauh lebih kompleks dan berakar dari berbagai budaya serta tradisi pra-Kristen. Simak penjelasannya berikut ini!
Simbol Kehidupan dan Kesuburan dalam Tradisi Kuno
Dilansir dari National Geographic, sebelum menjadi bagian dari perayaan Paskah Kristen, telur telah lama digunakan sebagai simbol kehidupan dan kesuburan dalam berbagai budaya kuno. Dalam tradisi Mesir, Persia, dan Romawi, telur melambangkan awal baru dan musim semi, karena musim ini dianggap sebagai waktu kelahiran kembali alam setelah musim dingin.
Masyarakat Persia kuno, misalnya, sudah memberikan telur sebagai hadiah saat Nowruz, Tahun Baru Persia yang dirayakan setiap musim semi, ribuan tahun sebelum Masehi.
Menurut sejarawan Inggris Venetia Newall dalam jurnal Folklore, telur adalah lambang universal dari kelahiran dan regenerasi. Karenanya, saat Kekristenan menyebar di Eropa, gereja mengadopsi simbol telur ke dalam perayaan Paskah yang juga jatuh pada musim semi, untuk memudahkan proses asimilasi budaya masyarakat pagan lokal.
Tradisi dalam Kekristenan
Dalam konteks Kristen, telur Paskah berkembang sebagai simbol dari makam kosong Yesus setelah kebangkitan-Nya.
Beberapa tradisi Kristen Timur, seperti Gereja Ortodoks, memiliki kebiasaan mewarnai telur dengan warna merah, melambangkan darah Kristus. Tradisi ini diyakini berasal dari abad ke-13 atau sebelumnya, berdasarkan bukti arkeologis dan teks-teks gerejawi.
Salah satu legenda populer dalam Kekristenan menyebutkan bahwa Maria Magdalena membawa telur ke hadapan Kaisar Tiberius untuk menjelaskan kebangkitan Yesus. Kaisar tidak percaya dan berkata, "Yesus bangkit dari kematian? Itu sama tidak mungkinnya dengan telur ini berubah menjadi merah."
| Source | : | national geographic,Encyclopaedia Britannica |
| Penulis | : | Ayu Wulansari K |
| Editor | : | Ayu Wulansari K |