Grid.ID – Gembong narkoba, Freddy Budiman, dieksekusi mati pada 29 Juli 2016, di Lapas Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Freddy diganjar hukuman tertinggi, usai terbukti bersalah menyelundupkan 1,4 juta pil ekstasi dari Tiongkok ke Indonesia pada tahun 2012 silam.

Pil ekstasi yang berhasil diselundupkan Freddy bersama kawanannya ini, dibungkus dalam kemasan teh dan ditaksir bernilai miliaran Rupiah. Usai melalui persidangan panjang, majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Barat memvonis Freddy Budiman dengan hukuman mati.

Usai amar putusan dibacakan oleh Ketua Majelis Hakim PN Jakarta Barat, Freddy Budiman menjalani hukumannya di Lapas Cipinang, Jakarta Timur. Meski vonis mati sudah di depan mata, Freddy masih nekat menjalankan aktifitas kriminalnya.

Pada tahun 2013 silam, Freddy Budiman kedapatan menjalankan lalu lintas perdagangan narkoba dari dalam Lapas Cipinang. Bahkan, Freddy membuat pabrik sabu-sabu di dalam Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Cipinang dan berhasil menghasilkan 2 kilogram sabu siap edar dalam sekali produksi.

Setelah kedapatan menjalankan bisnis narkotika dari dalam Lapas Cipinang, Freddy Budiman sempat dipindahkan ke Lapas Gunung Sindur, sampai akhirnya dipindahkan kembali ke Lapas Pasir Putih Nusakambangan. Di sana, Freddy Budiman tinggal menghitung mundur tanggal kematiannya di hadapan regu tembak.

Tiga bulan setelahnya, tepatnya pada 29 Juli 2016, Freddy Budiman bersama tiga orang terpidana mati lainnya, dibawa satu per satu ke lapangan Limus Buntu di belakang Pospol Nusakambangan. Freddy Budiman dan tiga orang WNA terpidana mati itu tewas di hadapan regu tembak. Jenazah Freddy dibawa ke kampung halamannya, Surabaya, untuk dimakamkan.

Jika mendengar nama Freddy Budiman, satu hal yang terlintas adalah seorang kriminal kakap, yang menjalankan bisnis narkoba. Freddy mengawali ‘karier’ kriminalnya menjadi seorang pencopet, penjudi, sampai akhirnya menjadi gembong narkoba.

Namun siapa sangka, di detik-detik terakhirnya, Freddy Budiman dipertemukan oleh seorang ustaz yang sudah 30 tahun lebih bolak-balik mengunjungi Lapas Nusakambangan untuk mendampingi para warga binaan, termasuk Freddy. Ia adalah ustaz Hasan Makarim.

Pertemuan ustaz Hasan Makarim dan Freddy Budiman memang terbilang singkat, tak lebih dari 3 bulan. Namun, dari pertemuan itu, Freddy menemukan jalan kebenaran dengan bertaubat. Dengan senang hati, ustaz Hasan membimbing Freddy yang akan menjalani eksekusi mati.

Saat awal pertemuan itu, keduanya tentu belum saling mengenal. Freddy kala itu ditempatkan di blok khusus, di mana tak ada kontak dengan dunia luar sedikitpun.

“Awal ketemu, beliau bilang ‘Pak ustaz saya mau bertobat’,” kata ustaz Hasan Makarim mengutip ucapan Freddy Budiman.

Baca Juga: Profil Ustaz Hasan Makarim, Setia Dampingi Napi yang Akan Dieksekusi Mati di Lapas Nusakambangan

Halaman Selanjutnya

Source : Kompas.com,Rumpi Trans TV
Penulis : Okki Margaretha
Editor : Okki Margaretha

Tag Popular

#tahun baru china

#berita artis hari ini

#bintang

#imlek

#Nathalie Holscher

#ngawi

#Bandung

#Okie Agustina

#Indonesia

#dewi perssik