Grid.ID - Inilah perjuangan Kartini dan emansipasi perempuan. Mengapa masih penting di era modern?
Kartini tentu bukan sosok yang asing bagi masyarakat Indonesia. Ia dikenal sebagai tokoh pelopor di bidang pendidikan sekaligus perjuangan emansipasi perempuan.
Sejak abad ke-19, Kartini telah menyuarakan pemikiran bahwa perempuan berhak memperoleh pendidikan serta kebebasan berpikir yang setara dengan laki-laki. Ia memaknai emansipasi perempuan bukan hanya sebagai kesetaraan secara formal, melainkan juga perubahan sosial dan ekonomi yang mampu membebaskan perempuan.
Sebelum membahas lebih jauh, masih banyak yang bertanya, apa sebenarnya makna emansipasi perempuan? Mari kita pahami bersama!
Pengertian emansipasi perempuan
Mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), emansipasi berarti pembebasan dari perbudakan. Istilah ini juga merujuk pada kesetaraan hak dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk kesamaan hak antara perempuan dan laki-laki.
Sementara itu, emansipasi perempuan dapat dimaknai sebagai proses pembebasan perempuan dari posisi sosial dan ekonomi yang rendah, maupun dari aturan yang membatasi ruang gerak untuk berkembang. Dengan demikian, emansipasi bukan sekadar menuntut persamaan dengan laki-laki tanpa mempertimbangkan kodrat, melainkan bagaimana perempuan dapat menjalankan peran dan potensinya secara optimal.
Mengutip jurnal karya Azis Setyagama (2014), gerakan emansipasi perempuan mulai berkembang pesat di Barat pada era 1960-an melalui berbagai aliran feminisme, seperti feminisme liberal, radikal, hingga Marxis. Gerakan tersebut memperjuangkan kesetaraan hak, peluang, dan masa depan bagi perempuan, termasuk dalam hal upah kerja yang setara antara pekerja laki-laki dan perempuan.
Selain itu, isu perlindungan perempuan dari kekerasan, seperti pemerkosaan dan pelecehan seksual, juga menjadi fokus utama perjuangan.
Kartini dan perjuangan emansipasi
Di Indonesia, gagasan emansipasi perempuan mulai diperjuangkan oleh Kartini, khususnya dalam membuka akses pendidikan yang setara bagi perempuan. Pada masa penjajahan Belanda, kesempatan bersekolah umumnya hanya diberikan kepada laki-laki, sementara perempuan lebih diarahkan untuk mengurus rumah tangga.
Baca Juga: Mengenal Sejarah Hari Kartini, Dilengkapi Kutipan RA Kartini dari Buku Habis Gelap Terbitlah Terang
| Penulis | : | Fidiah Nuzul Aini |
| Editor | : | Fidiah Nuzul Aini |