Grid.ID - Inilah makna dan sejarah lampion dalam perayaan Tahun Baru Imlek. Ternyata lampion memiliki makna dan sejarah yang penting bagi masyarakat Tionghoa.
Seperti diketahui, Perayaan Imlek memang tidak bisa dipisahkan dari kehadiran lampion. Benda bercahaya yang biasanya berwarna merah ini menjadi salah satu ikon paling khas saat Tahun Baru Imlek tiba.
Lampion tidak hanya berfungsi sebagai hiasan, tetapi juga menyimpan makna filosofis yang dalam bagi masyarakat Tionghoa. Lantas apa makna dan sejarah lampion dalam perayaan Tahun Baru Imlek? Simak penjelasannya.
Sejarah Lampion dalam Perayaan Tahun Baru Imlek
Lampion dalam perayaan Imlek memiliki sejarah yang cukup panjang. Menurut Dosen Jurusan Arkeologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmi Prihantoro, lampion awalnya adalah sebuah alat penerangan masyarakat China sejak ribuan tahun yang lalu.
Tepatnya, pada masa Dinasti Han Barat yang memimpin pada periode 206 Sebelum Masehi hingga 9 Masehi, serta Dinasti Han Timur periode 25–220 Masehi. Alat penerangan itu lantas kemudian diberi pelindung dari kertas di seluruh sisinya agar tidak mudah mati tertiup angin.
“Lampion ini sudah beribu-ribu tahun, artinya memang tradisi di China. Awalnya, semacam lampu penerangan, kemudian supaya tidak mati karena angin mereka tutup di sampingnya, itu dari sisi sejarahnya,” ujarnya dilansir dari Kompas.com.
“Kemudian lampion berkembang di China dan diadopsi oleh para biksu menjadi bagian dari tradisi keagamaan,” imbuhnya.
Senada dengan Fahmi, Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Ikatan Pemuda Tionghoa Indonesia Provinsi DKI Jakarta Glenn Wijaya mengatakan awal mula kemunculan lampion adalah pada era Dinasti Han Barat dan Dinasti Han Timur.
Saat itu, lampion digunakan untuk ritual penyembahan ke Taiyi Shen. Namun, dalam perkembangannya lampion juga digunakan untuk ritual agama Buddha.
Baca Juga: Apa Arti Gong Xi Fa Cai? Ternyata Bukan Ucapan Selamat Tahun Baru Imlek, Ini Makna dan Sejarahnya!
| Source | : | Kompas.com,Kompas TV |
| Penulis | : | Widy Hastuti Chasanah |
| Editor | : | Widy Hastuti Chasanah |