Grid.ID – Produser ternama Manoj Punjabi kembali memberikan bocoran menarik terkait karakter-karakter kuat dalam proyek terbaru MD Entertainment. Meski enggan mengungkap terlalu jauh, Manoj menegaskan bahwa pemilihan karakter dan pemain selalu dilakukan dengan pertimbangan matang, terutama demi menghadirkan sosok yang tidak hitam-putih.
Menurut Manoj, setiap karakter yang dihadirkan selalu berangkat dari kebutuhan cerita yang tertuang di dalam skrip. Dari sanalah tim MD menentukan siapa tokoh tersebut, bagaimana sifatnya, dan pendekatan akting seperti apa yang dibutuhkan.
“Karakter ini siapa, apa yang dibutuhkan? Itu saya kan dari skrip tahu karakternya harus kayak apa,” ujar Manoj Punjabi di kantor MD Pictures di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan pada Kamis (15/1/2026).
Ia menjelaskan bahwa dalam satu cerita, karakter bisa saja terlihat baik di permukaan, namun menyimpan sisi lain yang jauh lebih kompleks. Bahkan, kebaikan itu bisa dibungkus dengan cara yang manipulatif, terutama jika tokohnya adalah seorang politikus atau figur berpengaruh.
“Misalnya, dia baik tapi politikus, atau dia cara baiknya manipulasi, bukannya harus stereotip yang bukan stereotip,” lanjutnya.
Lebih jauh, Manoj menegaskan bahwa kekuatan cerita juga ditentukan oleh pemilihan ensemble cast yang tepat. Baginya, kualitas para pemain menjadi elemen krusial untuk menghadirkan visual dan nuansa cerita yang lebih sinematik.
“Ensemble-nya juga cast-nya yang harus top-top yang ada di sini. Look-nya jadi lebih ada look filmnya, bukan ada series-nya dapat, bukan hanya sinetron loh,” ungkap Manoj.
Ia menambahkan bahwa MD Entertainment selalu berusaha tampil berani dan berbeda, terutama dalam membangun tampilan visual. Hal tersebut menjadi salah satu unique selling point yang terus dijaga.
“Itu yang dari MD selalu mau bikin look-nya agak beda, agak berani, agak beda jadi unique selling point dari kita. Sangat penting cast-nya,” tegasnya.
Manoj juga menyinggung soal stigma wajah antagonis yang selama ini melekat di dunia hiburan. Menurutnya, orang jahat tidak selalu harus ditampilkan dengan wajah yang terlihat jahat.
“Kadang orang jahat mukanya nggak harus muka jahat, muka antagonis,” katanya.
| Penulis | : | Christine Tesalonika |
| Editor | : | Ayu Wulansari K |