Grid.ID - Aurelie Moeremans akhirnya angkat bicara menanggapi berbagai respons publik terhadap buku yang ia tulis berjudul Broken Strings. Melalui pernyataan yang dibagikannya di saluran Instagram pribadi dan dikutip Grid.ID pada Selasa (13/1/2026), Aurelie menegaskan bahwa karyanya sama sekali tidak mengandung ujaran kebencian, sebagaimana yang ditudingkan oleh sebagian pihak.

Dalam pernyataannya, Aurelie dengan tegas menyampaikan bahwa buku tersebut murni berisi pengalaman pribadinya. Ia menulis bukan untuk menyerang, menghakimi, atau mengajak pembacanya membenci siapa pun.

"Di bukuku tidak ada ujaran kebencian. Yang aku tuliskan adalah pengalaman pribadi, disampaikan tanpa ajakan membenci siapa pun," tulis Aurelie Moeremans dalam saluran Instagramnya yang dikutip Grid.ID pada Selasa (13/1/2026).

Ia menekankan bahwa setiap kisah yang dituangkan dalam buku itu dapat ia pertanggungjawabkan sepenuhnya. Tidak ada unsur fitnah maupun tuduhan yang diarahkan kepada individu tertentu. Bahkan, Aurelie menjelaskan bahwa seluruh nama dan identitas dalam buku tersebut telah disamarkan demi menjaga privasi pihak-pihak yang terlibat.

"Semua yang ada di buku bisa aku pertanggungjawabkan dan tidak ada fitnah. Nama dan identitas sudah disamarkan, aku juga tidak pernah menyebut atau mengonfirmasi siapa pun secara publik," tulisnya.

Meski demikian, Aurelie menyadari bahwa ada pihak-pihak yang merasa tersinggung atau tersindir oleh isi buku tersebut. Namun, ia menegaskan bahwa hal itu berada di luar kendalinya sebagai penulis.

Menurutnya, apabila ada seseorang yang mengaitkan kisah dalam buku dengan dirinya sendiri, hal tersebut merupakan interpretasi pribadi pembaca, bukan maksud atau niat dari penulis.

"Kalau kemudian ada pihak yang merasa tersindir dan memilih mengaitkan dirinya sendiri, itu bukan datang dari aku, dan berada di luar kendali penulisannya," tegasnya.

Ia mengaku tidak merasa khawatir secara pribadi, karena sejak awal tujuan utama penulisan buku tersebut bukanlah untuk memicu kontroversi, melainkan untuk berbagi pengalaman hidup yang ia lalui dan, jika memungkinkan, membantu orang lain yang berada dalam situasi serupa.

"Jadi secara pribadi, aku tidak khawatir. Fokusku tetap pada tujuan buku ini: berbagi pengalaman dan membantu orang lain," ungkap Aurelie Moeremans.

Lebih jauh, Aurelie mengungkapkan bahwa proses penulisan buku tersebut terjadi pada masa di mana dirinya belum sepenuhnya pulih secara emosional. Buku itu lahir bukan dari posisi seseorang yang sudah “selesai” dengan luka-lukanya, melainkan dari seseorang yang masih berada di tengah proses penyembuhan.

Baca Juga: Sosok Kelly di Buku Broken Strings Milik Aurelie Moeremans Akhirnya Hubungi dan Sampaikan Permintaan Maaf

"Aku belum sepenuhnya sembuh saat menulis buku ini. Menulis justru jadi bagian dari proses sembuhku," ungkapnya.

Ia juga menyinggung pentingnya kejujuran terhadap diri sendiri dalam proses pemulihan mental dan emosional. Aurelie mengakui bahwa salah satu titik balik dalam hidupnya adalah ketika ia berhenti memaksakan diri untuk tampak “baik-baik saja” dan mulai mencari bantuan yang tepat.

"Aku pelan-pelan belajar jujur pada diri sendiri, cari bantuan yang tepat, dan berhenti memaksa diri untuk “baik-baik saja”. Dari situ penyembuhan mulai terjadi," tulis Aurelie.

Sebagaimana diketahui, Aurelie Moeremans baru saja merilis sebuah memoar berjudul Broken Strings. Memoar Broken Strings itu berisi kisah kehidupan pribadi Aurelie ketika masih berusia sekitar 15 tahun. Dalam buku tersebut, Aurelie mengungkap bagaimana ia terjebak dalam hubungan tidak sehat dengan seorang pria dewasa yang disebutnya dengan nama samaran Bobby.(*)

Source : Instagram @aurelie
Penulis : Christine Tesalonika
Editor : Desy Kurniasari

Tag Popular

#berita artis hari ini

#harimau

#Ammar Zoni

#anak

#paskah

#meninggal dunia

#pegawai

#Indonesia

#maia estianty

#Lucinta Luna