Grid.ID- Pernikahan ideal selalu diimpikan sebagai hubungan yang penuh cinta, saling pengertian, dan dukungan tanpa batas. Namun, di balik keharmonisan itu, komunikasi justru bisa menjadi sumber kehancuran jika dijalankan dengan cara yang salah.
Banyak pasangan tidak menyadari bahwa cara mereka berbicara, berdebat, atau bahkan diam bisa menggerogoti fondasi hubungan sedikit demi sedikit. Dalam banyak kasus, masalah bukan terletak pada perbedaan pandangan, melainkan pada pola komunikasi yang destruktif.
Alih-alih menyelesaikan konflik, komunikasi yang buruk justru menimbulkan luka emosional yang mendalam. Mengutip Marriage.com, Kamis (30/10/2025), berikut lima tipe komunikasi yang diam-diam bisa menghancurkan pernikahan, dan bagaimana dampaknya terhadap hubungan jangka panjang.
1. Berusaha Menang dalam Perdebatan
Tipe komunikasi pertama yang sering merusak pernikahan adalah ketika salah satu atau kedua pasangan selalu ingin menang. Dalam pola ini, perdebatan bukan lagi tentang menemukan solusi bersama, melainkan tentang siapa yang lebih unggul. Ungkapan seperti “Kau memang selalu salah!” atau “Kau tak pernah mau mendengar!” menjadi senjata dalam “pertempuran rumah tangga.”
Strategi seperti membuat pasangan merasa bersalah, mengintimidasi, atau terus-menerus mengeluh digunakan untuk menundukkan pihak lain. Meski sesaat tampak berhasil, kemenangan semu ini justru meninggalkan luka dalam hubungan. Rasa cinta berganti dengan ketakutan atau kepasrahan, menjadikan pernikahan terjebak dalam hubungan dominan-submisif tanpa kasih sayang sejati.
2. Selalu Ingin Benar
Kebutuhan untuk selalu benar merupakan bentuk komunikasi destruktif lain yang sering muncul dalam pernikahan. Pasangan yang terus-menerus berdebat untuk membuktikan dirinya benar biasanya terjebak dalam lingkaran argumen tanpa akhir. Kalimat seperti “Kamu nggak ngerti apa-apa!” atau “Aku sudah bilang, kamu yang salah!” menjadi cermin bahwa ego mengalahkan empati.
Masalahnya, dalam pernikahan, keinginan untuk selalu benar membuat pasangan sulit mendengarkan dan memahami satu sama lain. Butuh kerendahan hati untuk mengakui kemungkinan diri sendiri bisa salah. Tanpa itu, perdebatan hanya menjadi ajang saling menyalahkan, bukan ruang untuk memperbaiki hubungan.
3. Tidak Lagi Berkomunikasi
Banyak pernikahan hancur bukan karena pertengkaran, tetapi karena keheningan yang berkepanjangan. Saat pasangan berhenti berbicara satu sama lain, hubungan kehilangan makna. Ada banyak alasan di balik diamnya seseorang, mulai dari takut tidak didengar, enggan terlihat lemah, atau merasa pembicaraan hanya akan berakhir dengan pertengkaran.
Ketika komunikasi berhenti, emosi tetap mencari jalan keluar. Akibatnya, perasaan diungkapkan melalui tindakan seperti tidak lagi saling menyapa, tidak berbagi cerita, hingga mencari pelarian melalui perselingkuhan. Ini adalah bentuk purgatory dalam pernikahan—hidup berdampingan tanpa koneksi emosional, hanya menjalani rutinitas tanpa cinta.
| Source | : | marriage.com |
| Penulis | : | Mia Della Vita |
| Editor | : | Winda Lola Pramuditta |