Grid.ID- Konflik di perbatasan Indonesia dan Timor Leste kembali memanas. Seorang warga negara Indonesia (WNI) berusia lanjut, Paulus Taek Oki, ditembak oleh aparat Unit Patroli Perbatasan (UPF) Timor Leste. Bagaimana kronologi WNI ditembak ini bisa terjadi?
Kronologi WNI ditembak polisi Timor Leste ini bermula saat Paulus Taek Oki bersama 24 warga setempat pergi menuju area dekat perbatasan pada Senin (25/8/2025) pagi. Mereka hendak memotong alang-alang untuk dijadikan atap rumah adat. Dari perkampungan, mereka berjalan kaki sejauh lebih kurang 5 kilometer.
Setibanya di lokasi, mereka terkejut melihat aparat UPF Timor Leste bersama warga setempat memasang patok di zona yang masih disengketakan. Pemasangan patok itu membuat sejumlah kebun milik warga Indonesia masuk ke dalam wilayah Timor Leste, bahkan hingga 200 meter.
Kronologi WNI ditembak polisi Timor Leste berlanjut warga protes hingga terjadi adu mulut. Menurut Kepala Desa Inbate, Matias Eko, aparat UPF menodongkan senjata laras panjang.
"Mereka mau pasang pilar, tetapi tidak sesuai dengan batas sebelumnya," kata Matias Eko dikutip dari Kompas.id, Selasa (26/8/2025). "Masyarakat tidak terima, lalu terjadi keributan."
Tak lama setelah itu, tujuh aparat UPF menyerbu ke arah WNI. Tembakan dilepaskan. Salah satu peluru mengenai bahu kanan Paulus Taek Oki.
Berdasarkan keterangan saksi, terdengar sekitar 8 kali letusan senjata. Setelah insiden penembakan, aparat UPF disebut berlari meninggalkan lokasi.
Di tempat kejadian, ditemukan delapan selongsong peluru dan satu proyektil utuh berkaliber 5,5 milimeter. Barang bukti tersebut kini disita untuk penyelidikan.
Peristiwa ini terjadi di tengah sengketa pemasangan patok perbatasan yang dinilai melanggar batas wilayah Indonesia. Ketegangan di perbatasan bermula dari konflik lahan di Desa Inbate, Kecamatan Bikomi Nilulat, Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur.
Wilayah ini berdekatan dengan Distrik Oecusse, sebuah wilayah Timor Leste yang berada di tengah-tengah Indonesia. Daerah tersebut menjadi area garapan warga Desa Inbate untuk pertanian.
Meski telah diatur dalam Provisional Agreement on the Land Boundary 2005, masalah tapal batas antara kedua negara tak kunjung usai. Adanya perbedaan perspektif dalam perjanjian tersebut membuat beberapa titik perbatasan masih menjadi sengketa.
Baca Juga: Kronologi Mpok Alpa Idap Kanker Payudara Versi Raffi Ahmad, Ternyata Sudah Feeling Gegara Ini