Find Us On Social Media :

6 Kiat Membangun Pernikahan Samara, Modal Cinta Saja Tak Cukup!

By Mia Della Vita, Selasa, 19 Agustus 2025 | 20:50 WIB

Kiat-kiat Membangun Pernikahan Samara.

Grid.IDPernikahan samara adalah perjalanan panjang yang membutuhkan ilmu, kesabaran, dan seni dalam menjalaninya. Bukan sekadar janji suci di pelaminan, tetapi sebuah komitmen untuk menjaga keharmonisan hidup bersama.

Hal ini menjadi sorotan dalam acara Sekolah Keluarga Samara (SAMARA) yang diinisiasi Forum Dakwah Perbatasan dan diisi oleh narasumber Penghulu Ahli Muda KUA Kuta Malaka, Kabupaten Aceh Besar, Muhammad Nasril, Lc, MA, bersama pendakwah nasional Ustadz Adi Hidayat. Keduanya membagikan kiat-kiat membangun pernikahan samara (sakinah, mawaddah, rahmah) yang dapat menjadi bekal penting bagi pasangan suami istri maupun calon pengantin.

Apa saja? Berikut kiat-kiat membangun pernikahan samara (sakinah, mawaddah, rahmah) yang patut diketahui.

1. Muamalah yang Baik 

Dikutip dari Serambinews.com, Selasa (19/8/2025), Muhammad Nasril menekankan bahwa salah satu kunci utama pernikahan samara adalah muamalah yang baik antara suami dan istri. Menurutnya, sikap saling menghargai dan memperlakukan pasangan dengan kelembutan akan menjaga komunikasi, membangun kepercayaan, serta membantu menyelesaikan persoalan rumah tangga dengan lebih bijak.

Ia menegaskan, pernikahan bukan sekadar mencari siapa yang benar dan salah, melainkan tentang menyatukan perbedaan dengan kasih sayang. Suami dan istri ibarat pakaian, yang saling melengkapi dan melekat erat, sehingga harus dijaga dengan penuh cinta dan kelembutan.

2. Jadikan Al Qur'an Sebagai Pedoman, Bukan Media Sosial

Ustadz Adi Hidayat mengutip firman Allah dalam Surat Al-Hujurat ayat 13, bahwa manusia diciptakan berpasangan dari laki-laki dan perempuan agar saling mengenal. Pernikahan adalah bentuk nyata dari ayat ini, di mana dua insan berbeda dipersatukan untuk membangun kehidupan yang harmonis.

Dengan kesadaran spiritual, pernikahan samara bukan hanya ikatan duniawi, tetapi juga jalan mendekatkan diri kepada Allah. Cinta yang hadir dalam rumah tangga bukan sekadar romantisme, melainkan ibadah yang membawa keberkahan. Oleh karena itu, jadikan firman Allah sebagai pedoman.

Sayangnya, banyak pasangan kini terjebak pada patokan atau pedoman yang mereka lihat dari kehidupan orang lain di media sosial. Hal ini sering kali menciptakan ekspektasi yang tidak realistis terhadap pernikahan, mengabaikan bahwa setiap rumah tangga memiliki perjalanan dan tantangannya sendiri yang unik.

Nasril mengingatkan, pernikahan samara tidak selalu dipenuhi momen manis, karena pada dasarnya kehidupan rumah tangga juga dipenuhi tantangan yang harus dihadapi bersama. Ada kalanya suami istri harus menghadapi kesulitan, konflik, bahkan ujian yang menguras emosi. Oleh sebab itu, calon pengantin perlu memiliki bekal ilmu agar siap menghadapi realitas.

Pernikahan bisa menjadi sangat indah, tetapi juga sebaliknya, tergantung pada bagaimana pasangan menjalaninya. Dengan ilmu, kesabaran, dan sikap syukur, rumah tangga bisa bertahan di segala situasi.